• Arsip

  • Juni 2022
    S S R K J S M
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • About Our Sponsor

  • Our Block Link

Indonesia – Malaysia Jalin Pengembangan Industri Strategis

E-mail Print PDF
Kerjasama Strategis RI-Malaysia

Indonesia dan Malaysia sepakat menjalin kerjasama pengembangan industri strategis dalam konteks kerjasama ASEAN. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan MoU antara Presdir PT Pindad, Adik Avianto Soedarsono, dan CEO PT SME Ordnance Sdn Bhd, Tan Sri Mohd Shahrom Nordin dan disaksikan oleh PM Malaysia, Najib Tun Razak; Menteri Pertahanan Malaysia, Dr Ahmad Zahid Hamidi; Menteri Pertahanan RI, Prof Dr Purnomo Yusgiantoro; Menteri Negara BUMN, Mustafa Abubakar serta Duta Besar RI, Da’i Bachtiar (22/4/2010).

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan pada hari terakhir pameran dan konferensi Defence Service Asia (DSA) ke-12 yang berlangsung di Putra World Trade Center (PWTC), Kuala Lumpur, 19 – 22 April 2010.

BACA LANJUTANNYA

Cita-Cita BRIC Membangun Tata Dunia Baru

Oleh Heri Hidayat Makmun

Empat Pemimpin dalam KTT BRIC Peta kekuatan ekonomi mulai membentuk poros dan terkristalisasi dalam kesamaan dan kepentingan. Setelah lama kekuatan Uni Eropa dan Amerika Serikat, maka saatnya sekarang ini kekuatan yang berasal dari new emerging force atau ada juga yang mengatakan sebagai new emerging economies force. Kekuatan ini menyatukan diri dalam suatu persekutuan BRIC (Brasil, Rusia, India dan China).

Keempat Negara ini baik dipandang dari luas Negara, jumlah penduduk, produktifitas ekonomi dan sumber daya alam memiliki kapasitas yang luas biasa besar. Kita bisa bayangkan baru luasnya wilayah Rusia dan China saja sudah sepertiga luas dunia, ini belum keempatnya.

Sebenarnya istilah BRIC sendiri muncul dari Jim O’Neill dari Goldman Sachs untuk menjadikian BRIC sebagai ikon baru dalam usaha untuk melakukan penyesuaan yang mendalam terhadap sistem ekonomi dunia yang sekarang ini ada. Penyesuan yang mendalam terhadap sistem yang masih runyam, penuh dengan manipulasi dari sektor keuangan negara yang memproduksi dolar, dan riskan bagi para pemegang dolar di dunia. Penyesuaian mendalam lain tentu pada institusi keuangan dunia dan tentu juga mengenai pemikiran kembali tentang perubahan tata ekonomi dunia baru.

BACA LANJUTANNYA

Indonesia Negara Ke-14 Terkuat Di Dunia

Kita masih bersyukur berdasarkan World Militery Strength Rangking (WMSR) yang mendata seluruh kekuatan militer dunia ternyata Indonesia masih masuk dalam posisi 14 kekuatan miltier dunia, setelah Italia. Lima kekuatan dunia yang tercatat dalam hasil observasi WMSR, posisi militer terkuat dunia masih didominasi oleh Amerika Serikat, kedua China, ketiga Rusia, keempat India dan yang kelima Inggris. Tiga puluh kekuatan terbesar yang diobservasi urutannya dapat dilihat pada gambar terlampir.

Terlepas dari berbagai isu lemahnya alusista TNI dan kecilnya anggaran, tetapi jumlah personal militer, posisi geogragis dan kekuatan angkatan darat Indonesia masih dianggap sebagai kekuatan pada rang 11 – 20. Sisa persenjataanTNI masih dianggap kuat, walaupun hal ini menjadi PR besar Presiden SBY untuk kembali memperkuat alusista kita yang perlu diremajakan.

Berdasarkan observasi WMSR posisi Indonesia mendapatkan diskripsi pada level 2 rang 11 – 20 sebagai berikut:

Our formula provides for a good disparity between North and South Korea, placing South well-ahead of the North thanks to better infrastructure and capital. Mexico’s placement this high on the list is interesting to note – it scored a good balance across the board in all major categories. Israel finally gets a proper placement on this year’s list – just out of the top ten – sporting a strong land army with equally strong training, modern equipment and recent combat experience” , Seperti yang dikutif dari situs WMSR.  READ MORE …

Persaingan ASEAN – Uni Eropa Dalam Perdagangan Minyak Nabati

Oleh Heri Hidayat Makmun

Persaingan perdagangan minyak sawit dengan minyak kedelai benar-benar menjadi tidak sederhana.  Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia yang memproduksi minyak sawit harus bersaing dengan Eropa yang memproduksi minyak kedelai untuk merebut pasar yang sama, yaitu pasar minyak nabati.  Tentunya pada segmen pasar yang sama. Pada masa yang akan daang produksi minyak nabati CPO dari Indonesia dan Malaysia mampu menguasai 25 persen pangsa pasar minyak nabati dunia.

Hal ini sangat mengkhatirkan Eropa. Uni Eropa berusaha untuk menyelamatkan minyak kedelai yang semakin lama semakin tergerus dengan produk minyak sawit. Apalagi diketahui bahwa minyak sawit terdapat unsur bahan transgenic yang belum dapat dipertanggungjawabkan keamanannya. Selain itu untuk memproduksi suatu volume yang sama minyak kedelai membutuhkan lahan yang luas.

Eropa dan Amerika tidak cocok untuk menanam sawit. Sehingga minyak nabati AS dan Eropa mengandalkan minyak kedelai dan minyak sayur lainnya yang menjadi produk andalan petani Eropa dan Amerika. Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU – 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun. Kondisi seperti ini ada di Asia Teneggara.

Banyak alasan mengapa minyak sawit lebih layak menggantikan minyak kedelai dan minyak sayur lainnya. Tanaman kedelai adalah adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti  minyak nabati, kecap, tahu, dan tempe.  Tanaman sejenis ini tidak produktif untuk memproduksi oksigen, sedangkan kepala sawit sangat rakus menhisap carbon dan memproduksi oksigen.  Sehingga untuk mendapatkan minyak kedelai tidak seekonomi minyak sawit. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kelapa sawit tumbuh lebih baik di Malaysia dan Indonesia akibat pasokan sinar matahari yang relatif lebih banyak, lanjutnya.

READ MORE…

Lawan Devide et Impera!!!

Oleh Heri Hidayat Makmun

Penjajahan negeri-negeri Asia dan Afrika memiliki sejarah berbeda-beda, tetapi ternyata memiliki cari khas yang sama. Apakah itu? Devide et Impere, sebuah kalimat yang paling sering kita konotasikan dengan penjajahan Belanda, tetapi sebenarnya semua bangsa penjajah menggunakan cara ini. Cara yang sama dengan Belanda sang penjajah nusantara kita.

Penaklukan bangsa penjajah telah dikenal di Asia Tenggara sejak sebelum kehadiran bangsa-bangsa Barat, namun penaklukan yang dilaksanakan oleh Barat di wilayah tersebut dinilai sebagai periode penting karena memiliki dampak yang sangat besar bahkan luar biasa yang mengakibatkan perubahan yang dampaknya masih kita saksikan sampai sekarang ini.

Keterbelakangan yang mencakup kemiskinan, kebodohan dan perpecahan pada bumi putra, dan hal ini masih mudah kita temukan sampai sekarang. Sementara warisan penjajahan masa lalu masih ada, penjajahan dengan bentuk dan rupa baru, dan masih dengan pemain lama sedang berlangsung.

Mereka bangsa barat yang mengaku memiliki ras lebih unggul dari ras Asia dan Afrika, datang dari wilayah begitu jauh membangun dan mencengkramkan kekuasaannya sedemikian lama walaupun berulang-ulang sempat diguncang oleh perlawanan pribumi.

Mereka yang datang dari jauh itu melegalkan pembunuhan, perbudakan, penistaan manusia antar manusia demi melenggangkan kekuasaan di negeri-negeri jajahan. Mereka bangsa yang merasa terhormat itu berprilaku seperti kera yang belum mengenal sopan santun dan perikemanusiaan. Ujug-ujug mereka merasa pendekar HAM. Hughhh!

Masa-masa merintih bangsa terjajah Barat di Asia Tenggara praktis bersamaan waktunya dengan penjajahan Barat di benua yang kita kenal dengan Amerika yang pribumi aslinya adalah Indian, serta Australia yang suku aslinya adalah Aborigin. Dua bangsa yang sekarang akan punah akibat penindasan, yang terjadi abad ke-16.

Sedangkan Afrika Utara, Asia Barat dan Asia Tengah telah mengalaminya sejak sebelum Masehi. Penderitaan mereka ini jauh lebih pedih dari pada kita, bangsa Indonesia. Sampai sekarangpun kemiskinan dan perpecahaan yang merupakan ciri khas dari hasil penjajahan masih ada. sampai abad 21 ini.

Abad ke-16 adalah periode penting dalam sejarah manusia Saudara! Setelah sekitar 1000 tahun mengalami zaman kegelapan, Barat mengalami proses kebangkitan besar yang lazim disebut Renaissance (Kelahiran Kembali) sebagai akibat pengaruh Timur yang sejak sekitar 5000 sebelum Masehi mengalami masa jaya yaitu capaian prestasi kemanusiaan praktis tanpa putus hingga awal abad ke-19.

Perang Salib (1095-1291) yang dilaksanakan Barat ke wilayah kekuasaan Timur yang terbentang dari Iberia hingga Mesopotamia meningkatkan minat Barat untuk mengenal Timur. Ketika itu Timur tampil menjanjikan atau menggiurkan nyaris dalam segala hal.

Kebangkitan Barat antara lain dalam bidang teknologi (setelah belajar dari Timur) mendorong mereka keluar dari dunianya mencari “dunia lain” untuk ditaklukan. Kemenangan yang diraih Portugis tahun 1267 dan Spanyol terhadap kaum Muslim Arab pada 1492 sungguh memabukkan mereka. Rasa percaya diri sebagai manusia unggul bangkit.

Dengan demikian penjajahan ke seberang lautan masuk pula dalam agenda Renaissance. Adapun semboyan imperialisme Barat adalah gold (mencari kekayaan), gospel (menyebar pengaruh berupa nilai-nilai yang dianut Barat) dan glory (mencari kehormatan).

Proyek penaklukan pertama Barat –dalam hal ini Portugis– adalah Kesultanan Malaka (1400-1511), yang mungkin adalah negeri yang paling makmur di Asia Tenggara saat itu. Konon kerajaan tersebut dibentuk oleh seorang pangeran dari Majapahit, setelah menganut Islam dia mengubah namanya dengan Megat Iskandar Syah. Ketika tiba di wilayah tersebut dia menilai bahwa dia berada pada tempat yang strategis terutama dari segi ekonomi:

Selat Malaka adalah selat yang sejak awal masehi telah menjadi jalur ramai antara dunia Barat dengan dunia Timur. Dia bersekutu dengan penduduk lokal dan membangun fasilitas untuk berlabuh. Benar saja, dalam waktu relatif singkat banyak kapal-kapal asing yang singgah atau mukim, Malaka yang berawal dari kampung nelayan berubah menjadi pelabuhan bertaraf internasional.

Kemasyhuran Malaka tiba juga ke telinga bangsa Portugis. Ketika itu Portugis telah memiliki beberapa wilayah taklukan dari pesisir Afrika hingga sejauh Goa di India. Vasco de Gama, seorang laksamana ulung dilantik sebagai raja muda untuk India. Dia mengirim utusan ke Malaka dan diterima dengan baik oleh Sultan Ahmad (1488-1511), Portugis mendapat izin berdagang sebagaimana halnya bangsa-bangsa lain.

Utusan Portugis tiba ketika Malaka konon sedang dirundung perpecahan antara sultan di satu fihak dengan bendahara dan putranya, suatu hal yang berbahaya mengingat di mana-mana perpecahan adalah menyenangkan imperialis. Jika tidak ada perpecahan ya diada-adakan. Devide et impera dari dulu menjadi jurus pamungkas mereka para kolonialis itu, bahkan cara itu masih digunakan sampai kini. Ingat Saudara sampai kini! Jadi camkanlah!

Rakyat Malaka tahu watak Portugis karena mereka ada yang berasal dari negeri-negeri yang telah direbut Portugis semisal Hurmuz di Teluk Persia, Suquthrah di Teluk ‘Adan dan Zanzibar di lepas pantai timur Afrika. Mereka mempengaruhi sultan untuk memusuhi Portugis, sultan terpengaruh dan dalam suatu serangan mendadak beberapa anggota utusan tewas dan selebihnya lolos.

Peristiwa tersebut boleh dinilai sebagai awal zaman gelap bagi Asia Tenggara. Setelah kehadiran Portugis, berbondong-bondong bangsa-bangsa Barat lain datang ke Asia Tenggara meraih tanah jajahan. Kelak ketika Perang Pasifik dimulai, Inggris bercokol di Birma (kini Myanmar), Brunei, Malaya (kini Malaysia) dan Singapura; Belanda bercokol di Indonesia; Portugis bercokol di Timor Timur (kini Timor Leste); Perancis di Vietnam, Laos dan Kamboja; serta Amerika Serikat (AS) bercokol di Filipina. Di Indonesia dalam masa kolonisasi Belanda di wilayah nusantara, yang sekian lama dikenal dengan sebutan Nederlands Oost-Indische (Hindia Timur Belanda).

Kebangkitan nasional kita tidak terlepas dari suasana internasional. Awal abad ke-20 dunia Timur bangkit melawan keunggulan Barat. Jepang misalnya, dengan sigap melaksanakan modernisasi yang dikenal dengan Restorasi Meiji sehingga terhindar dari penjajahan Barat.

Pada awal abad ke-20 hasilnya dapat dirasakan, sekitar 90 persen warga Jepang melek huruf. Jepang pulalah yang mengejutkan dunia dengan kemenangannya melawan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang (1904-1905). Perang tersebut dianggap sebagai konflik besar pertama abad ke-20, Jepang telah membuktikan bahwa Barat dapat dikalahkan.

Prestasi meruntuhkan mitos keunggulan Barat kembali diraih Jepang pada Perang Pasifik. Hanya perlu 8 bulan Jepang merebut jajahan Barat tapi perlu waktu sekitar 3,5 tahun bagi Barat untuk mengalahkan Jepang setelah bertempur dahsyat.

Bangsa China masih tenggelam dalm konflik-konflik dalam negerinya. Revolusi melawan Dinasti Manchu (1644-1912) menjerumuskan Cina dalam perang saudara berkepanjangan bercampur Perang Cina-Jepang II (1937-1945). Revolusi membagi Cina menjadi dua negara yang bermusuhan yaitu Republik Cina (Taiwan) dan Republik Rakyat Cina. Perang melawan kolonialis memang berat, tetapi perang melawan perpecahan dalam negeri jauh lebih berat! Jauh lebih menimbulkan kesengsaraan. Perpecahan ini konspirasi dari Inggris dan Jepang untuk memecah negeri naga. Sampai sekarang ini konlik China – Taiwan masih terus di rawat oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari konspirasi jangka panjang.

Beruntung bagi negara yang dijuluki naga ini, benar-benar bangun dari tidur panjangnya dan bangkit pada abad 21 ini. Menggasak ekonomi kolonialis dan membuktikan kebijaksanaan timur sebagai kekuatan, bukan machiavelis yang main hantam sana sini.

Pemberontakan Sipahi (1857-1858) atau Revolusi India yang dapat ditumpas Inggris menempatkan India langsung dalam pengawasan pemerintah Inggris, bukan lagi perusahaan East India Companynya. Rezim kolonial segera mengirim para zending dan missie untuk lebih giat memasukkan pengaruh Barat ke India. Beryukurlah kita karena ada Mahatma Gandhi di India.

Para elit India menanggapi cengkeraman kolonial dengan membentuk All Indian National Congress (1885) yang kelak dikenal dengan Partai Kongres. Sekelompok wakil Muslim di organisasi tersebut kemudian keluar dan membentuk Liga Muslim.

Di antara para tokoh kemerdekaan kelak tampil paling menonjol tiga orang yaitu Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru dan Muhammad ‘Ali Jinnah. Perpecahan antara Gandhi-Nehru di satu fihak dengan Jinnah di fihak lain mempertegas perbedaan lama antara Hindu dengan Muslim, berakibat India terbagi menjadi India dan Pakistan. Lagi-lagi perpecahan menjadi ciri khas dari hasil penjajahan.

Kembali kemasa kini saudara, saat ini saya berbangga karena ternyata Abad 21 adalah Abad Kebangkitan Asia dan Afrika, keluar dari cengkraman penjajahan, penuntasan krisis politik dalam negeri dan akhirnya bangkit sebagai bangsa yang bermartabat.

Saat ini tahun 2009 saat kita telah dapat melihat dunia dalam keadaan merdeka. Walaupun penjajahan masih ada terhadap bangsa Palestina, Irak dan Afghanistan. Semoga bangsa-bangsa ini diberi kekuatan dan keluar juga dari cengkraman penjajahan.

Mari saudara-saudara kita pelajari sejarah kita agar kita tidak salah berpihak. Terlalu dangkalnya ilmu kita yang menyebabkan penjajahan dapat mencengkram terlalu lama. Terpecah-pecahlah kita menjadi lemah. Terkotak-kotak menjadi bangsa katak. Berkelahi dengan teman seiring dan tidak ada waktu untuk kita belejar menjadi besar.

Bangsa besar adalah bangsa yang kuat, bangsa yang kuat adalah bangsa yang belajar dan berilmu. Tetapi bangsa yang belajar adalah bangsa yang mempunyai waktu dan tidak direpotkan dengan krisis politik, perpecahan SARA, suku, ideologi.

Jadi bisa kita ambil kesimpulan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bersatu dan bertoleransi mengibarkan kemegahan bangsa bersama. Bukan saling adu seperti Buaya dan Cicak, seperti KPK dan Kepolisian, karena yang bertepuk tangan adalah koruptor.

Bisa kita ambil kesimpulan saudara bahwa bangsa yang berkomitmen menghapus penjajahan dimuka bumi adalah bangsa yang bersatu. Tanpa itu kita bermimpi saudara-saudara! Lawan devide et impera!!!

Kekuatan Diplomasi Sukarno Menundukan Timur dan Barat

(Bukti Efektifitas Diplomasi Sukarno Memainkan Peranan Sebagai Pemimpin Negara-Negara Dunia Ketiga di KAA Bandung untuk Merebut Papua Barat dari Tangan Belanda)

Oleh Sumantiri B. Sugeo

Pergololakan sejarah Indonesia dari tahun 1957 sampai 1958, merupakan pergolakan Pemimpin Revolusi Kemerdekaan Indonesia Sukarno yang bertentangan dengan beberapa negara barat (Belanda, Portugal dan Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Ada satu kalimat yang sampai sekarang sering kita dengar “Go to hell with your aid”. Kata-kata yang sering diucapkan Presiden Sukarno pada waktu itu.

Sukarno menyampaikan pidato berapi-api di depan Kongres Amerika. Meminta AS lebih memahami persoalan yang terjadi di negara-negara baru merdeka yang ingin bebes dari intervensi asing dan bebas dari dukungan AS kepada negara-negara penjajah yang ingin masuk kembali. Untuk mewujudkan kemerdekaan yang abadi.

Sukarno membangun kebersamaan negara-negara baru berkembang dan Negara-negara baru merdeka yang umumnya berada di Asia dan Afrika untuk melakukan konfrensi Asia-Afrika di Bandung.

Bagi orang-orang CIA konfrensi tersebut adalah simbol permusuhan dengan AS dan penyelenggaraan ini harus digagalkan dengan melakukan berbagai aksi sabotase.”Saya pikir, inilah waktunya kita menyeret kaki Sukarno ke bara api”, Frank Wisner seorang Deputi Direktur Perencanaan CIA pada suatu hari di murim gugur.

Aksi AS untuk menggusur pemimpin revolusi kemerdekaan RI ini dilakukan baik dengan manufer diplomasi Goverment to Goverment sampai kepada skala skandal sex (bahkan ada rencana busuk CIA untuk membuat dan memanipulasi film Sukarno menjadi film porno) yang menjadi sorotan banyak orang. Semua hal ini dilakukan untuk menggagalkan Konfrensi Asia – Afrika yang ditakuti akan dijadikan icon bagi perlawanan kepada kaum-kaum imperialis.

Pada bulan April 1955, KAA akhirnya berhasil diselenggarakan di Bandung yang dihadiri oleh 22 pemimpin negara Asia dan 7 pemimpin negara-negera Afrika. Konfrensi ini dilakukan sebagai perlawanan terhadap Pakta Pertahanan Asia Tenggara (SEATO : The Southeast Asia Treaty Organization ) bentukan AS.

Sebagai pemimpin negara-negara dunia ketiga ia banyak melakukan perjalanan ke Uni Soviet dan China. Tapi juga ia bertamu ke Gedung Putih. Inti pesan Sukarno sederhana saja, negara-negara Asia – Afrika mau dibawa kemana?

Tawaran sangat menarik berdatangan dari mana-mana. Hal ini menyebabkan Indonesia berhasil mengumpulkan senjata dari sana-sini, dari yang modern sampai yang biasa, dari yang dibayar tempo sampai yang hanya hibah (suatu good diplomacy yang tidak pernah lagi ditemukan pada pemimpin-pemimpin Indonesia sekarang ini).

Senjata-senjata tersebut utamanya berasal dari Rusia dan China. Negara blok timur ini sangat agresif untuk menempatkan negara-negara anggota Asia Afrika menjadi bagian dari blok timur.

Sejatinya Sukarno dan pemimpin negara-negara KAA lainnya tidak akan kemana-mana. Anggota KAA merupakan negeri merdeka yang bebas dari blok manapun, tetapi baik blok timur maupun barat terlalu berharap banyak terhadap pengembangan pengaruh mereka di negara-negara ini.

Permainan cantik Sukarno inilah yang membuat Belanda ketar-ketir di ujung timur wilayah Nusantara. Apalagi Sukarno bisa membuktikan bahwa senjata-senjata Rusia dan China dapat memporak porandakan markas-markas Belanda di Papua Barat.

Inilah akhir dari penjajahan barat di Indonesia. Hal yang sangat menaikkan semangat dan martabat bangsa Indonesia yang baru saja merdeka, ternyata mampu memainkan peranan yang menundukkan dua blok besar.

Bukti bahwa kekuatan diplomasi Asia Afrika harus tetap dihidupkan terus, sebagai panggung politik kita di dunia internasional yang telah berkomitmen untuk memainkan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Secara gamblang dapatlah kita katakan tidak ada KAA maka tidak ada politik bebas aktif yang efektif.

Badai Gustav Menjadi Keberkahan Obama?

Oleh Heri Hidayat Makmun

Diluar faktor badai ini sebenarnya Obama sudah sangat unggul dibandingkan dengan McCain Dalam hasil polling yang diselenggarakan USA Today menunjukkan 50% respenden Obama, sedangkan McCain hanya mendapat 43%. Polling lain yang dilakukan oleh CBS, Obama mendapatkan 48% dan McCain 40% dari 875 responden.

Dukungan rakyat Amerika terhadap Obama semakin meningkat paska konvensi Partai Demokrat yang dihadiri oleh 80 ribu pendukungnya di Denver, Colorado.

Menurut CBS 71% peningkatan yang terjadi pada Obama karena 38 juta warga menyaksikan pidato Obama setelah menyaksikan dari stasiun televisi.

Sementara McCain yang di daulat Partai Republik yang akan melakukan konvensi bersamaan dengan bencana badai Gustav, sehingga perhatian rakyat Amerika dan media massa terbagi dua.

Konvensi Partai Republik yang diselenggarakan di Saint Paul, Minnesota, sepi dari liputan medai massa AS. Selain itu karena merasa kurang nyaman dan takut menimbulkan prasangka bahwa partai ini kurang sensitif terhadap bencana Gustav, akhirnya konvensi ini pun diperpendek.

Sebenarnya Presiden Bush sendiri ingin hadir dalam konvensi Partai Republik tersebut, tetapi akhirnya dibatalkan dan lebih memilih untuk memperhatikan badai Gustav. Atensi Bush pada konvensi tersebut akhirnya hanya dilakukan secara visual dengan teknologi telekonfren.

Akibat badai Gustav ini Obama lebih banyak mendapatkan manfaat dari konvensi partainya dibandingkan dengan McCain yang juga melakukan konvensi yang sama.

McCain = Bush?

Oleh Sumantiri B. Sugeo

“Oderint dum metuant – Tak apa mereka benci asalkan mereka takut”
Praktek politik militer Kekaisan Romawi dalam mempertahankan wilayah ke-empire-annya.

Setiap sejarah bangsa melahirkan slogan-slogan yang menjadi idelogi. Cara berfikir konservatif yang umumnya muncul dari kalangan republikan AS membentuk semacam indogkrinasi yang sulit untuk berubah. Fenomena ini dapat terlihat dari para tokoh republikan. Salah satunya adalah McCain yang didaulat menjadi Calon Presiden AS dari Partai Republik berdasarkan hasil konvensi nasional partai tersebut.

Memori masa lalu ketika AS memenangkan perang dunia II (World War II) menjadi kenangan manis yang menyandu, ketika AS dianggap sebagai hero dari negara-negara sekutu sekaligus sebagai kekuatan adidaya satu-satunya di dunia. Praktis seluruh kawasan dunia berada di bawah hegemoni barat yang dikomandoi oleh AS. Paradigma inilah yang membentuk kalimat seperti:

“In Praise of American Empire”
Dinesh D’Soize, Hooper Institution

Empire yang sudah dibangun hasil dari invansi yang sudah-sudah.

Pada contoh kasus-kasus seperti Grenada, El Salvador dan Nikaragua. Bisa dilihat walaupun tidak ada keuntungan ekonomi yang dijanjikan, tetapi kemandirian negara-negara dunia ketiga yang tidak terikat pada Washington akan mendapatkan stigma “membahayakan”. Negara seperti ini tidak akan dijadikan sekutu. Ancaman embargo ekonomi sampai pada invansi militer harus siap ditanggungnya. Faktor ekonomi menjadi nomor dua, strategi wilayah dianggap menjadi penting.

Paska runtuhnya Uni Soviet yang ditandai dengan dirubuhkannya tembok Berlin, ternyata kebijakan AS tidak berubah. Ditahun 1993 mereka menyerang Somalia dengan maksud ikut campur untuk menata ulang peta politik negara tersebut.

AS juga Ikut campur juga untuk menumpas gerakan perlawanan di Peru, Meksiko, Kolombia, dan Ekuador. Hal ini dilakukan di Amerika Latin di tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an sampai tahun 1990-an.

Setelah AS menghujani Irak dengan bom tahun 1991. Penyerbuan ini dilakukan sebelum invansi AS atas Irak yang sekarang. AS mendirikan pangkalan militer di Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab. Kemudian operasi badai gurun dilancarkan kembali sampai saat ini.

Pada ikut dalam konflik Yugoslavia di tahun 1999 yang akhirnya negara ini pecah. AS mendirikan pangkalan senjata di Kosovo, Georgia, Albania, Bulgaria, Makedonia, Hungaria, Bosnia, dan Kroasia. Kemudain setelah menginvansi Afghanistan tahun 2001 sampai saat ini. AS mendirikan pangkalan militer di Afghanistan, Pakistan, Kazakhstan, Georgia, Yaman dan Djibouti.

Di Jepang, Korea Selatan, Taiwan AS juga mendirikan pangkalan militernya. Bahkan Yukosuka pangkalan marinir AS di Jepang dijadikan sebagai pusat kekuatan nuklir di Asia Timur. Berbagai kapal induk berkekuatan nuklir hilir mudik disini, contoh seperti Kapal Induk USS George Washington. Pemimpin Partai Demokrat Sosial Mizuho Fukushima dalam satu pidato pada unjukrasa itu mengatakan bahwa; “Satu kapal induk berbahan nuklir adalah lebih berbahaya ketimbang generasi kekuatan nuklir”. Dalam kaitannya dengan perang globar AS yang selalu memaksa Jepang ikut, ia juga berkomentar, “Jepang , yang memiliki konstitusi damai, harus tidak terlibat dalam perang tak pantas AS.”

As juga mempertahankan sebuah perebutan wilayah yang dilakukan secara tidak sah oleh Israel terhadap bangsa Palestina yang lemah secara militer dan sumber daya. Mereka harus menghadapi mesin perang canggih buatan AS.

Sulit diterima akal pikiran sehat bagi bangsa yang tidak mengalami kemenangan World War II. Efek dari World War II masih terus berlanjut. Hal tersebut terlihat kali ini. Ketika seorang calon presiden dari Partai Republik secara berani melakukan tawaran kepada warga AS untuk menjadikan AS sebagai fasisme baru. Tawaran ini diberikan oleh McCain justru disaat kesadaran dunia kepada arti sebuah cinta dan perdamaian semakin meningkat. Kalau boleh penulis memberikan sebuah kalimat yang cukup tepat untuk McCain : “Hidup di babak sejarah yang tidak tepat.”

Sejah Hitler. Musolini dan Kaisar Hirohito yang pernah membangun ke-empire-an di atas puing-puing negeri yang terjajah sekedar untuk memasang sebuah bendera kebanggaan dengan membunuh ribuan bahkan jutaan nyawa manusia. Ini jelas sulit dipahami oleh bangsa lain. Apakah McCain akan menjadi bagian dari mereka?

Secara berani McCain memberikan sebuah jawaban yang sangat jelas atas pertanyaan ini kepada peserta konvensi Partai Republik. McCain berkata : “American state will continue to building national empire.” Ini artinya pembunuhan masal akan diteruskan, menghabiskan anggaran militer untuk invansi juga akan diteruskan, mengirimkan anak-anak AS yang sehat ke medan perang, kemudian dipaketkan pulang dalam peti jenazah juga akan terus berlanjut.

Hal ini dikatakan McCain dengan tersenyum dalam konvensi tersebut. Sebuah senyum yang teramat mahal untuk dibayar oleh umat manusia di bumi. Untuk melanjutkan Bush administration di semua penjuru dunia. Suatu kebijakan yang sangat ditentang bukan saja oleh negara-negara korban seperti Afghanistan, Irak, Vietnam, Korea Utara, Somalia, Libia, Cile, Cuba, Venejuela, dan lainnya, tetapi juga seluruh warga dunia yang mulai sadar akan pentingnya sebuah perdamaian bagi masa depan bumi ini, bahkan juga sebagian besar warga AS sendiri yang cinta damai.

Berimbangkah Pemberitaan Media-Media Massa Kita?

Oleh Heri Hidayat Makmun dan Sumantiri B. Sugeo

Semakin kita amati media-media massa di Indonesia semakin tidak berimbang dalam pemberitaannya. Apalagi jika pemberitaan mengenai konflik Timur Tengah, konflik Palestina Israel, konflik Kaukasus, masalah Iran, konflik Sudan dan Korea Utara.

Tidak berimbang ini akan sangat kentara sekali jika pemberitaan tersebut kita bandingkan dengan berita yang bersumber dari Aljazeera, Rusia Today, Sin Hua dan sumber informasi dari timur lainnya.

Demikian banyak kasus bisa diambil, tetapi penulis hanya mengambil masalah perimbangan pemberitaan konflik Kaukasus atau lainnya yang sedang hangat sebagai contoh. Dengan tidak bermaksud untuk menghakimi salah satu media massa atau beberapa media massa di Indonesia, maka tidaklah perlu kita sebutkan media massa mana dan memberitakan apa. Pembaca disilahkan melakukan pengamatan sendiri.

Dalam berbagai pemberitaan media-media massa yang memberitakan konflik Kaukasus terlihat sekali sumber berita yang diambil hanya dari satu pihak (barat). Mereka mengambil sumber pemberitaan dari media-media besar barat dan tidak diimbangai dengan media besar dari timur, misalnya Aljazeera, Press TV, Sin Hua atau Rusia Today yang tentunya berseberangan dengan media masa barat seperti BBC, VOA, CNN, NBC dan sebagainya.

Sebagai contoh dalam menyebutkan Ossetia Selatan ada yang meyebutnya dengan Provinsi Ossetia Selatan, bahkan masih ada yang menyebut Ossetia Selatan dengan nama yang sudah sangat usang sebelum perang 1991 – 1992 yang memerdekaan Ossetia Selatan, yaitu Shida Kartli (ini sangat keterlaluan).

Paktanya secara de facto Ossetia Selatan sudah merdeka. Dideklarasikan pada tanggal 28 November 1991. Berbentuk republik. Presiden Eduard Djabeevich Kokoity. Beribukota di Tskhinvali. Perdana Menteri Igor Viktorovich Sanakoyev. Secara de jure diakui oleh Rusia, Nicaragua, Venejuela, Armenia dan Belarusia. Pada umumnya media masaa kita masih berkutet pada pengakuan Rusia saja, informasi yang berkembang tidak terikuti atau sengaja untuk menutupi.

Republik Ossetia Selatan ini sejak tahun 1992 sudah menjalankan sistem pemerintahan secara efektif. Anggaran negara dan pelayanan publik seperti kesehatan dan pendidikan sudah dijalankan oleh Ossetia Selatan sendiri. Sejak genjatan senjata tahun 1992 antara pejuang Ossetia Selatan dan Georgia, Pemerintah Georgia melakukan kebijakan isolasi terhadap Ossetia Selatan. Praktis tidak ada lagi keterkaitan administratif Pemerintahan Georgia terhadap Ossetia Selatan. Republik Ossetia Selatan benar-benar terlepas dari ikatan dengan Georgia.

Tetapi ternyata bagi Georgia tindakan isolasi hanya merupakan hukuman dan Ossetia Selatan masih merupakan provinsi Georgia. Diplomasi Georgia terhadap negara-negara NATO dan AS menyebabkan tidak ada pengakuan internasional terhadap Ossetia Selatan.

Demikian juga dengan Rusia yang belum mengakui sampai dua badan parlemen Rusia, Majelis Rendah Duma dan Majelis Tinggi Dewan Federal Rusia secara bulat mendukung kemerdekaan dua wilayah kaukasus tersebut. Pemungutan suara di Majelis Rendah Duma menghasilkan suara 447-0, sementara Majelis Tinggi Dewan Federal Rusia menghasilkan 130-0 bagi pengakuan kemerdekaan atas Ossetia Selatan dan Abkhazia.

Dua lembaga ini merekomendasikan kepada Presiden Rusia Rusia Dmitry Medvedev untuk memberikan langkah nyata bagi pengakuan Ossetia Selatan dan Abkhazia. Dalam beberapa media massa disebutkan bahwa pengakuan kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia merupakanan keputusan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, ini jelas sangat lucu dan salah, atau mungkin mengambil informasi dari sumber yang tidak tepat, atau memang sengaja dibuat salah untuk mengarahkan “kesan tertentu.”

Kesan pertama yang akan muncul adalah bahwa Rusia telah melakukan kesalahan karena melakukan penyerangan ke daerah Georgia dan melakukan pengrusakan terhadap kota Tskhinvali yang masih dianggap sebagai bagian dari Georgia. Seakan invansi yang dilakukan oleh Georgia ke Republik Ossetia Selatan tidak ada.

Kesan kedua bahwa jika Seorang Putin yang mengambil keputusan agar terkesan Putinlah yang harus bertanggungjawab, karena menurut negara-negara UE seorang seperti Putin adalah berbahaya.

Pembentukan persepsi seperti ini banyak diambil manfaat oleh pihak barat NATO dan AS khususnya untuk semakin mengesankan bahwa dunia sangat mengecam Rusia. Dunia yang mana ini hanya sebuah klaim saja.

Ini baru ketidakberimbangan konflik di Kaukasus konflik di Palestina – Israel, Hamas, Korea Utara, Iran, Irak, Afghanistan, Libia, Hisbullah, Korea Utara, Mindanau bahkan masalah di Indonesia sendiri terlalu mengesankan barat tidak pernah bersalah.

Ada lagi yang lucu tentang Olympiade Beijing China yang mengesankan dalam tulisannya bahwa Olympiade China merupakan kemunduran setelah Olympiade Atlanta. Kemunduran yang mana tidak diperinci secara jelas, tetapi hanya sekedar memberikan argumentasi yang mengesankan bahwa Asia tetap lebih rendah dan lebih kuno dibandingkan barat.

Ada lagi keanehan dari media-media massa kita ini, yaitu tentang demontrasi besar-besaran ketika dilakukan Konvensi Nasional Partai Republik yang dilakukan oleh NGO anti perang Unity for Peace dan Justice kurang sekali pemberitaan, kalau boleh dibilang tidak ada. Menurut Aljazeera jumlah demontran kurang lebih 500 ribu orang yang memenuhi jalan-jalan di Manhaattan Washington untuk meneriakan anti perang, tetapi menurut New York Time hanya 250 ribu orang. Baiklah kita ambil angka versi barat 250 orang meneriakan anti perang, tapi ini lumayan karena New York Time masih melakukan pemberitaan walau dengan data yang berbeda. Masalahnya bukan pada selisih angka yang hampir dua kali lipat itu. Itu urusan media asing, ini masalah media massa dalam negeri yang tidak melakukan pemberitaan demontrasi tersebut.

Pemberitaan yang ada hanya tentang Konvensi Nasional Partai Republik, kemudian diselipkan sedikit bahwa ada seorang demontran yang berhasil masuk ruang konvensi dan meneriakkan anti perang di Irak sambil membawa poster, yang kemudian ditangkap polisi. Itu saja. Temannya yang jumlahnya ratusan ribu diluar ruang konvensi tidak diberitakan.

Syarat untuk disebut bernilai berita harus seperti apa? Apakah itu belum layak diberitakan? Jika copet yang beraksi disebuah gang saja diberitakan.

Saya tidak tahu ada udang dibalik batu apa ini? Karena banyak program seperti LSM asing yang menggelontorkan dananya kepada para oknum insan press di berbagai penjuru dunia yang pro barat secara ilegal.

Mafia pemberitaan ini menjadi bisnis yang menggiurkan sebagian oknum. Rupanya masih ada yang “memprostitusikan profesionalitas” agar sekedar mendapatkan gaji double atau triple. Maklum mungkin karena barang-barang harganya pada naik, jadi pendapatan juga harus naik.

Penyusunan UU Migas No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Di Bawah Tekanan IMF dan USAID

Kesulitan bangsa kita selama ini adalah ketakberdayaan dalam penerimaan anggaran kita yang semakin seret. Ini terjadi karena minyak dan gas kita dikuasai asing. Selain itu distribusi minyak dan gas kita juga mempersulit masyarakat yang membutuhkannya.

Berbagai kesulitan bangsa ini tanpaknya akan semakin panjang setelah terbitnya UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas yang sangat merugikan rakyat ini terbit.

Kerugikan ini disebabkan oleh adanya mafia perminyakan. Minyak dan gas merupakan sumber paling potensial yang menjadi andalan negara, sehingga tidak perlu mempertahankan regulasi yang menguntungkan mafia perminyakan ini. Mafia perminyakan inilah yang menyebabkan inefisiensi BBM nasional, terutama dalam manajemen impor.

Hal ini disampaikan oleh Kurtubi pada Sidang Panitia Angket yang berlangsung tertutup di Gedung Nusantara II DPR, Rabu (27/8, yang menjadi saksi ahli yang dihadirkan menduga ada intervensi asing dalam penyusunan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bersama pengamat perminyakan Wahyudin Yudiana Ardiwinata.

Berdasarkan situs USAID juga disebutkan bahwa dana yang dialirkan USAID tidak tanggung-tanggung, untuk pembahasan UU Migas dan turunannya, selama kurun waktu 2001-2004, adalah 21,1 juta dollar AS atau sekitar Rp 200 miliar. Bukan hanya itu USAID juga membiayai perbantuan teknis dan pelatihan (technical assistance and training) dalam mengimplementasikan UU Migas, Kelistrikan, dan Energi Geotermal sesuai dengan UU Migas tersebut.

Pengajuan draft RUU Migas yang banyak merugikan bangsa Indonesia ini diajukan oleh USAID bersamaan dengan tekanan IMF agar Indonesia melakukan reformasi regulasi migas. Proses penyusunan RUU Migas tersebut terjadi selama kurun waktu 2001-2004.

Dalam konfrensi pers sesudah sidang itu juga Kurtubi menjelaskan bahwa inefisiensi tata kelola minyak saat ini adalah dampak dari UU Migas No 22/2001. ”Inisiator UU Migas itu dari International Monetary Fund lewat letter of intent. IMF mengharuskan Indonesia mengubah UU Migas-nya. IMF menyodorkan UU Migas. Jadi, pasti ada intervensi asing.” (Tim IV)