McCain = Bush?

Oleh Sumantiri B. Sugeo

“Oderint dum metuant – Tak apa mereka benci asalkan mereka takut”
Praktek politik militer Kekaisan Romawi dalam mempertahankan wilayah ke-empire-annya.

Setiap sejarah bangsa melahirkan slogan-slogan yang menjadi idelogi. Cara berfikir konservatif yang umumnya muncul dari kalangan republikan AS membentuk semacam indogkrinasi yang sulit untuk berubah. Fenomena ini dapat terlihat dari para tokoh republikan. Salah satunya adalah McCain yang didaulat menjadi Calon Presiden AS dari Partai Republik berdasarkan hasil konvensi nasional partai tersebut.

Memori masa lalu ketika AS memenangkan perang dunia II (World War II) menjadi kenangan manis yang menyandu, ketika AS dianggap sebagai hero dari negara-negara sekutu sekaligus sebagai kekuatan adidaya satu-satunya di dunia. Praktis seluruh kawasan dunia berada di bawah hegemoni barat yang dikomandoi oleh AS. Paradigma inilah yang membentuk kalimat seperti:

“In Praise of American Empire”
Dinesh D’Soize, Hooper Institution

Empire yang sudah dibangun hasil dari invansi yang sudah-sudah.

Pada contoh kasus-kasus seperti Grenada, El Salvador dan Nikaragua. Bisa dilihat walaupun tidak ada keuntungan ekonomi yang dijanjikan, tetapi kemandirian negara-negara dunia ketiga yang tidak terikat pada Washington akan mendapatkan stigma “membahayakan”. Negara seperti ini tidak akan dijadikan sekutu. Ancaman embargo ekonomi sampai pada invansi militer harus siap ditanggungnya. Faktor ekonomi menjadi nomor dua, strategi wilayah dianggap menjadi penting.

Paska runtuhnya Uni Soviet yang ditandai dengan dirubuhkannya tembok Berlin, ternyata kebijakan AS tidak berubah. Ditahun 1993 mereka menyerang Somalia dengan maksud ikut campur untuk menata ulang peta politik negara tersebut.

AS juga Ikut campur juga untuk menumpas gerakan perlawanan di Peru, Meksiko, Kolombia, dan Ekuador. Hal ini dilakukan di Amerika Latin di tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an sampai tahun 1990-an.

Setelah AS menghujani Irak dengan bom tahun 1991. Penyerbuan ini dilakukan sebelum invansi AS atas Irak yang sekarang. AS mendirikan pangkalan militer di Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab. Kemudian operasi badai gurun dilancarkan kembali sampai saat ini.

Pada ikut dalam konflik Yugoslavia di tahun 1999 yang akhirnya negara ini pecah. AS mendirikan pangkalan senjata di Kosovo, Georgia, Albania, Bulgaria, Makedonia, Hungaria, Bosnia, dan Kroasia. Kemudain setelah menginvansi Afghanistan tahun 2001 sampai saat ini. AS mendirikan pangkalan militer di Afghanistan, Pakistan, Kazakhstan, Georgia, Yaman dan Djibouti.

Di Jepang, Korea Selatan, Taiwan AS juga mendirikan pangkalan militernya. Bahkan Yukosuka pangkalan marinir AS di Jepang dijadikan sebagai pusat kekuatan nuklir di Asia Timur. Berbagai kapal induk berkekuatan nuklir hilir mudik disini, contoh seperti Kapal Induk USS George Washington. Pemimpin Partai Demokrat Sosial Mizuho Fukushima dalam satu pidato pada unjukrasa itu mengatakan bahwa; “Satu kapal induk berbahan nuklir adalah lebih berbahaya ketimbang generasi kekuatan nuklir”. Dalam kaitannya dengan perang globar AS yang selalu memaksa Jepang ikut, ia juga berkomentar, “Jepang , yang memiliki konstitusi damai, harus tidak terlibat dalam perang tak pantas AS.”

As juga mempertahankan sebuah perebutan wilayah yang dilakukan secara tidak sah oleh Israel terhadap bangsa Palestina yang lemah secara militer dan sumber daya. Mereka harus menghadapi mesin perang canggih buatan AS.

Sulit diterima akal pikiran sehat bagi bangsa yang tidak mengalami kemenangan World War II. Efek dari World War II masih terus berlanjut. Hal tersebut terlihat kali ini. Ketika seorang calon presiden dari Partai Republik secara berani melakukan tawaran kepada warga AS untuk menjadikan AS sebagai fasisme baru. Tawaran ini diberikan oleh McCain justru disaat kesadaran dunia kepada arti sebuah cinta dan perdamaian semakin meningkat. Kalau boleh penulis memberikan sebuah kalimat yang cukup tepat untuk McCain : “Hidup di babak sejarah yang tidak tepat.”

Sejah Hitler. Musolini dan Kaisar Hirohito yang pernah membangun ke-empire-an di atas puing-puing negeri yang terjajah sekedar untuk memasang sebuah bendera kebanggaan dengan membunuh ribuan bahkan jutaan nyawa manusia. Ini jelas sulit dipahami oleh bangsa lain. Apakah McCain akan menjadi bagian dari mereka?

Secara berani McCain memberikan sebuah jawaban yang sangat jelas atas pertanyaan ini kepada peserta konvensi Partai Republik. McCain berkata : “American state will continue to building national empire.” Ini artinya pembunuhan masal akan diteruskan, menghabiskan anggaran militer untuk invansi juga akan diteruskan, mengirimkan anak-anak AS yang sehat ke medan perang, kemudian dipaketkan pulang dalam peti jenazah juga akan terus berlanjut.

Hal ini dikatakan McCain dengan tersenyum dalam konvensi tersebut. Sebuah senyum yang teramat mahal untuk dibayar oleh umat manusia di bumi. Untuk melanjutkan Bush administration di semua penjuru dunia. Suatu kebijakan yang sangat ditentang bukan saja oleh negara-negara korban seperti Afghanistan, Irak, Vietnam, Korea Utara, Somalia, Libia, Cile, Cuba, Venejuela, dan lainnya, tetapi juga seluruh warga dunia yang mulai sadar akan pentingnya sebuah perdamaian bagi masa depan bumi ini, bahkan juga sebagian besar warga AS sendiri yang cinta damai.

Iklan

Berimbangkah Pemberitaan Media-Media Massa Kita?

Oleh Heri Hidayat Makmun dan Sumantiri B. Sugeo

Semakin kita amati media-media massa di Indonesia semakin tidak berimbang dalam pemberitaannya. Apalagi jika pemberitaan mengenai konflik Timur Tengah, konflik Palestina Israel, konflik Kaukasus, masalah Iran, konflik Sudan dan Korea Utara.

Tidak berimbang ini akan sangat kentara sekali jika pemberitaan tersebut kita bandingkan dengan berita yang bersumber dari Aljazeera, Rusia Today, Sin Hua dan sumber informasi dari timur lainnya.

Demikian banyak kasus bisa diambil, tetapi penulis hanya mengambil masalah perimbangan pemberitaan konflik Kaukasus atau lainnya yang sedang hangat sebagai contoh. Dengan tidak bermaksud untuk menghakimi salah satu media massa atau beberapa media massa di Indonesia, maka tidaklah perlu kita sebutkan media massa mana dan memberitakan apa. Pembaca disilahkan melakukan pengamatan sendiri.

Dalam berbagai pemberitaan media-media massa yang memberitakan konflik Kaukasus terlihat sekali sumber berita yang diambil hanya dari satu pihak (barat). Mereka mengambil sumber pemberitaan dari media-media besar barat dan tidak diimbangai dengan media besar dari timur, misalnya Aljazeera, Press TV, Sin Hua atau Rusia Today yang tentunya berseberangan dengan media masa barat seperti BBC, VOA, CNN, NBC dan sebagainya.

Sebagai contoh dalam menyebutkan Ossetia Selatan ada yang meyebutnya dengan Provinsi Ossetia Selatan, bahkan masih ada yang menyebut Ossetia Selatan dengan nama yang sudah sangat usang sebelum perang 1991 – 1992 yang memerdekaan Ossetia Selatan, yaitu Shida Kartli (ini sangat keterlaluan).

Paktanya secara de facto Ossetia Selatan sudah merdeka. Dideklarasikan pada tanggal 28 November 1991. Berbentuk republik. Presiden Eduard Djabeevich Kokoity. Beribukota di Tskhinvali. Perdana Menteri Igor Viktorovich Sanakoyev. Secara de jure diakui oleh Rusia, Nicaragua, Venejuela, Armenia dan Belarusia. Pada umumnya media masaa kita masih berkutet pada pengakuan Rusia saja, informasi yang berkembang tidak terikuti atau sengaja untuk menutupi.

Republik Ossetia Selatan ini sejak tahun 1992 sudah menjalankan sistem pemerintahan secara efektif. Anggaran negara dan pelayanan publik seperti kesehatan dan pendidikan sudah dijalankan oleh Ossetia Selatan sendiri. Sejak genjatan senjata tahun 1992 antara pejuang Ossetia Selatan dan Georgia, Pemerintah Georgia melakukan kebijakan isolasi terhadap Ossetia Selatan. Praktis tidak ada lagi keterkaitan administratif Pemerintahan Georgia terhadap Ossetia Selatan. Republik Ossetia Selatan benar-benar terlepas dari ikatan dengan Georgia.

Tetapi ternyata bagi Georgia tindakan isolasi hanya merupakan hukuman dan Ossetia Selatan masih merupakan provinsi Georgia. Diplomasi Georgia terhadap negara-negara NATO dan AS menyebabkan tidak ada pengakuan internasional terhadap Ossetia Selatan.

Demikian juga dengan Rusia yang belum mengakui sampai dua badan parlemen Rusia, Majelis Rendah Duma dan Majelis Tinggi Dewan Federal Rusia secara bulat mendukung kemerdekaan dua wilayah kaukasus tersebut. Pemungutan suara di Majelis Rendah Duma menghasilkan suara 447-0, sementara Majelis Tinggi Dewan Federal Rusia menghasilkan 130-0 bagi pengakuan kemerdekaan atas Ossetia Selatan dan Abkhazia.

Dua lembaga ini merekomendasikan kepada Presiden Rusia Rusia Dmitry Medvedev untuk memberikan langkah nyata bagi pengakuan Ossetia Selatan dan Abkhazia. Dalam beberapa media massa disebutkan bahwa pengakuan kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia merupakanan keputusan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, ini jelas sangat lucu dan salah, atau mungkin mengambil informasi dari sumber yang tidak tepat, atau memang sengaja dibuat salah untuk mengarahkan “kesan tertentu.”

Kesan pertama yang akan muncul adalah bahwa Rusia telah melakukan kesalahan karena melakukan penyerangan ke daerah Georgia dan melakukan pengrusakan terhadap kota Tskhinvali yang masih dianggap sebagai bagian dari Georgia. Seakan invansi yang dilakukan oleh Georgia ke Republik Ossetia Selatan tidak ada.

Kesan kedua bahwa jika Seorang Putin yang mengambil keputusan agar terkesan Putinlah yang harus bertanggungjawab, karena menurut negara-negara UE seorang seperti Putin adalah berbahaya.

Pembentukan persepsi seperti ini banyak diambil manfaat oleh pihak barat NATO dan AS khususnya untuk semakin mengesankan bahwa dunia sangat mengecam Rusia. Dunia yang mana ini hanya sebuah klaim saja.

Ini baru ketidakberimbangan konflik di Kaukasus konflik di Palestina – Israel, Hamas, Korea Utara, Iran, Irak, Afghanistan, Libia, Hisbullah, Korea Utara, Mindanau bahkan masalah di Indonesia sendiri terlalu mengesankan barat tidak pernah bersalah.

Ada lagi yang lucu tentang Olympiade Beijing China yang mengesankan dalam tulisannya bahwa Olympiade China merupakan kemunduran setelah Olympiade Atlanta. Kemunduran yang mana tidak diperinci secara jelas, tetapi hanya sekedar memberikan argumentasi yang mengesankan bahwa Asia tetap lebih rendah dan lebih kuno dibandingkan barat.

Ada lagi keanehan dari media-media massa kita ini, yaitu tentang demontrasi besar-besaran ketika dilakukan Konvensi Nasional Partai Republik yang dilakukan oleh NGO anti perang Unity for Peace dan Justice kurang sekali pemberitaan, kalau boleh dibilang tidak ada. Menurut Aljazeera jumlah demontran kurang lebih 500 ribu orang yang memenuhi jalan-jalan di Manhaattan Washington untuk meneriakan anti perang, tetapi menurut New York Time hanya 250 ribu orang. Baiklah kita ambil angka versi barat 250 orang meneriakan anti perang, tapi ini lumayan karena New York Time masih melakukan pemberitaan walau dengan data yang berbeda. Masalahnya bukan pada selisih angka yang hampir dua kali lipat itu. Itu urusan media asing, ini masalah media massa dalam negeri yang tidak melakukan pemberitaan demontrasi tersebut.

Pemberitaan yang ada hanya tentang Konvensi Nasional Partai Republik, kemudian diselipkan sedikit bahwa ada seorang demontran yang berhasil masuk ruang konvensi dan meneriakkan anti perang di Irak sambil membawa poster, yang kemudian ditangkap polisi. Itu saja. Temannya yang jumlahnya ratusan ribu diluar ruang konvensi tidak diberitakan.

Syarat untuk disebut bernilai berita harus seperti apa? Apakah itu belum layak diberitakan? Jika copet yang beraksi disebuah gang saja diberitakan.

Saya tidak tahu ada udang dibalik batu apa ini? Karena banyak program seperti LSM asing yang menggelontorkan dananya kepada para oknum insan press di berbagai penjuru dunia yang pro barat secara ilegal.

Mafia pemberitaan ini menjadi bisnis yang menggiurkan sebagian oknum. Rupanya masih ada yang “memprostitusikan profesionalitas” agar sekedar mendapatkan gaji double atau triple. Maklum mungkin karena barang-barang harganya pada naik, jadi pendapatan juga harus naik.

Penyusunan UU Migas No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Di Bawah Tekanan IMF dan USAID

Kesulitan bangsa kita selama ini adalah ketakberdayaan dalam penerimaan anggaran kita yang semakin seret. Ini terjadi karena minyak dan gas kita dikuasai asing. Selain itu distribusi minyak dan gas kita juga mempersulit masyarakat yang membutuhkannya.

Berbagai kesulitan bangsa ini tanpaknya akan semakin panjang setelah terbitnya UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas yang sangat merugikan rakyat ini terbit.

Kerugikan ini disebabkan oleh adanya mafia perminyakan. Minyak dan gas merupakan sumber paling potensial yang menjadi andalan negara, sehingga tidak perlu mempertahankan regulasi yang menguntungkan mafia perminyakan ini. Mafia perminyakan inilah yang menyebabkan inefisiensi BBM nasional, terutama dalam manajemen impor.

Hal ini disampaikan oleh Kurtubi pada Sidang Panitia Angket yang berlangsung tertutup di Gedung Nusantara II DPR, Rabu (27/8, yang menjadi saksi ahli yang dihadirkan menduga ada intervensi asing dalam penyusunan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bersama pengamat perminyakan Wahyudin Yudiana Ardiwinata.

Berdasarkan situs USAID juga disebutkan bahwa dana yang dialirkan USAID tidak tanggung-tanggung, untuk pembahasan UU Migas dan turunannya, selama kurun waktu 2001-2004, adalah 21,1 juta dollar AS atau sekitar Rp 200 miliar. Bukan hanya itu USAID juga membiayai perbantuan teknis dan pelatihan (technical assistance and training) dalam mengimplementasikan UU Migas, Kelistrikan, dan Energi Geotermal sesuai dengan UU Migas tersebut.

Pengajuan draft RUU Migas yang banyak merugikan bangsa Indonesia ini diajukan oleh USAID bersamaan dengan tekanan IMF agar Indonesia melakukan reformasi regulasi migas. Proses penyusunan RUU Migas tersebut terjadi selama kurun waktu 2001-2004.

Dalam konfrensi pers sesudah sidang itu juga Kurtubi menjelaskan bahwa inefisiensi tata kelola minyak saat ini adalah dampak dari UU Migas No 22/2001. ”Inisiator UU Migas itu dari International Monetary Fund lewat letter of intent. IMF mengharuskan Indonesia mengubah UU Migas-nya. IMF menyodorkan UU Migas. Jadi, pasti ada intervensi asing.” (Tim IV)

Kerjasama Militer China – Rusia dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Amerika Serikat di Asia Timur

Oleh Heri Hidayat Makmun

Bisa dikatakan abad ini merupakan abad kekuatan alternatif yang tumbuh. Kekuatan baru tersebut umunya muncul di Eropa Timur dan Asia.

Rusia merupakan salah satu yang baru bangkit dari keterpurukan paska kehancuran Uni Soviet yang berada di Eropa Timur dan China yang mengalami tidur panjang juga mengalamai kebangkitan yang sama.

Kedua negara ini baik secara ekonomi maupun militer mengalami kemajuan yang mengesankan. Bahkan kebangkitan China bisa dikatakan fenomenal.

Dua negara ini pada tahun 2005 yang lalu juga melakukan latihan militer bersama yang mereka beri nama “Misi Perdamaian 2005”.

Simulasi perang yang dilakukan di tiga kawasan tersebut yaitu di Semenanjung Jiadong, Laut Kuning, dan pangkalan Vladivostok tersebut dilakukan selama seminggu.

Ada opsi pertama untuk melakukan latihan di Xianjian dan Zhejiang yang berdekatan dengan Taiwan, tetapi dibatalkan karena alasan terlalu provokatif.

Dalam latihan tersebut Rusia berkesempatan untuk menunjukkan teknologinya kepada China yang bakal menjadi calon konsumen utamanya dalam perdagangan perangkat perang tersebut.

Mesin perang Rusia yang diikutsertakan dalam latihan tersebut seperti TU 22M3 Bear yang merupakan pesawat pembom jarak jauh. TU95S yang digunakan sebagai pembom strategis. Kedua senjata ini mampu membawa bom konvensional dan bom nuklir.

Pesawat tempur Sukhoi 27SM dengan kemampuan rudal udara ke permukaan (air to surface) AS-15 yang mampu menjangkau 3000 km. dan Kapal serbu BDK-11 yang memiliki kemampuan antikapal selam Marshal Shaposhnikov.

China berencana akan meningkatkan anggaran militer sampai sebesar 18% dari tahun lalu sehingga mencapai sebesar 417 miliar yuan ( 59 miliar USD ), tetapi menurut pengamat berdasarkan kebiasaan China dalam menetapkan anggaran riilnya tidak dapat semata melihat anggaran angka resminya. Bisa jadi akan teralisasi sampai dua sampai tiga kali lipat dari angka resminya.

Anggaran yang besar ini akan sangat efektif jika China berkolaborasi dengan Rusia dalam suatu kerjasama militer. Bisa China hanya menjadi konsumen mesin militer Rusia saja atau bahkan China menjadi investor terhadap riset dan pengembangan teknologi militer Rusia yang potensial.

Jiang Enchu seorang juru bicara National People Congress berdalih bahwa kenaikan anggaran militer ini hanya untuk meningkatkan gaji tentara dan mengakomodasi biaya bahan bakar yang dikwatirkan meningkat.

Seperti yang diberitakan VOA bahwa pantagon melaporkan dalam laporan yang diterbitkan hari Selasa (19/08/2008), Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengatakan laju kecepatan yang dibuat China dalam mempermoderen pasukan militernya menunjukkan China kini bukan hanya mempertimbangkan hubungannya dengan Taiwan, tetapi justru China telah mengancam akan menggunakan kekuatan militernya jika Taiwan menyatakan kemerdekaan.

Masih menurut laporan itu tersebut, China kini memiliki sekitar 710 sampai 790 rudal balistik jarak-dekat, naik dari tahun lalu, dan tentunya dengan anggaran militer yang meningkat China dapat membeli TU 22M3 Bear atau TU95S Rusia yang canggih.

Tentunya bagi AS dan sekutu Asianya yaitu Taiwan dan Jepang hal ini merupakan ancaman serius. Mau tidak mau Amerika akan mengambil peran yang lebih dalam untuk membantu sekutu Asia Timurnya ini.

Bisa ditebak kerja sama militer China – Rusia akan menarik perhatian Amerika Serikat ke Asia Timur lebih dalam dari kebijakan AS sebelumnya.

Konflik Rusia – Georgia dan Kesalahan Mikhail Saakashvili

Oleh Heri Hidayat Makmun

Ossetia Selatan yang merupakan negara merdeka diproklamasikan setelah melalui perang tahun 1991-1992, tetapi sayangnya karena usaha NATO dan AS untuk tidak memasukkan peta Ossetia Selatan sebagai negara merdeka di Forum PBB.

Akibat kesalahan besar inilah yang menganggap seakan-akan Ossetia Selatan adalah provinsi dari Georgia.

Pandangan ini telah menempatkan Rusia seakan-akan sebagai penyebab ketidakstabilan keamanan Kaukasus. Padahal usaha Rusia justru bertindak untuk menjaga kestabilan keamanan Kaukasus.

Rusia hanya beraksi terhadap tindakan Georgia yang telah menyerang terlebih dahulu Ossetia Selatan yang merdeka. Tindakan Rusia “jauh lebih sopan dibandingkan dengan kebiasaan AS” karena telah melalui pakta penyerangan Georgia terhadap Ossetia Selatan.

Rusia hanya menginginkan bahwa pasukan Georgia ditarik mundur dari invansinya di Ossetia Selatan. Merupakan hal yang wajar jika Rusia bereaksi seperti itu.

Presiden Georgia Mikhail Saakashvili merasa bahwa jika dia menyerang Ossetia Selatan maka barat terutama NATO dan AS akan siap berada dibelakangnya. Kesan ini didapat setelah ada lampu hijau bagi Georgia untuk menjadi bagian dari NATO dan masyarakat Eropa, sehingga NATO dan AS dianggapnya tidak hanya mendukung suara tetapi tindakan militer tegas jika Rusia menyerang Georgia.

Peta politik internasional sekarang ini tidak bisa memandang rendah Tiga Negara Bangkit abad ini yaitu Rusia, China dan India yang akan sedikit demi sedikit menguasai sendi-sendi kekuatan diplomatik dan militer dunia untuk memasuki kancah sebagai aktor “perpolisian dunia” dengan alasan stabilitas keamanan internasional.

Barat sangat berharap terhadap Rusia untuk menggunakan pengaruhnya di Timur Tengah yang sekarang sedang berkomplik, tekanan ke Iran, dan Korea Utara.

Saakashvili menganggap remeh hal-hal ini, sehingga dengan mudahnya Saakashvili mencederai Kaukasus dengan asap militer terhadap Ossetia Selatan.

Amerika Serikat sendiri sudah kehilangan darah untuk melakukan tindakan militer sekarang ini. Amerika telah mengeluarkan dana sebesar 162 milyar USD untuk meneruskan perang di Afghanistan dan Irak. Itu belum cukup karena kemungkinan Pantagon masih membutuhkan dana sebesar 125 milyar USD lagi.

Jika dana untuk menyerang Afghanistan dan Irak saja sebesar itu harus berapa dana yang dikeluarkan untuk menyerang Rusia, yang hanya sekedar untuk mendukung tindakan bodoh Saakashvili.

Bangkit dengan Kepercayaan Diri Sebagai Jati Diri Bangsa

Oleh Heri Hidayat Makmun

Kesadaran kekuatan bangsa terbentuk dari penyatuan prestasi-prestasi bangsa yang terserak. Dari sinilah akan terbangun kepercayaan kepada diri sendiri dan jati diri bangsa. Kita bisa melihat dari bangsa-bangsa yang bangkit baik dari peradapan lampau seperti munculnya kejayaan bangsa-bangsa masa lampau. Seperti kejayaan bangsa Mesir dan Babilonia atau bangsa Romawi dan Yunani. Mungkin lebih dekat dengan kita seperti kejayaan nusantara masa lalu, yaitu bangkitnya dan berjayanya Mahapahit dengan sumpah palapa atau Kerajaan Sriwijaya yang merajai maritim dan mengaruhi dua samudera dunia

Mungkin masa kontemporer saat ini seperti kebangkitan bangsa Jepang yang hanya dalam waktu 60-an tahun dapat bangkit kembali dengan cepat. Kebangkitan China yang sekarang mulai menjadi raksasa ekonomi di Dunia. Kebangkitan India yang menggunakan kemampuan riset dan produk intelektualnya.

Mari kita renungi masa-masa kebangkitan mereka tersebut. Jati diri mereka adalah kepercayaan kepada kekuatan diri sendiri. Kepercayaan kepada diri sendiri akan menentukan arah dari perjalanan sejarah berbangsa dan bernegara yang gemilang.

Secara riil dapat kita beri contoh logika dan fakta sederhana, sebagai berikut:

Jika kita percaya pada diri sendiri maka pemerintah akan lebih memilih Pertamina atau perusahaan dalam negeri lain untuk mengekplorasi blok Cepu dibandingkan dengan memberikan kepada “orang lain” Exon Mobile. Sehingga Pertamina punya pendapatan baru untuk membantu anggaran kita. Begitu juga dengan tambah-tambang lain yang sekarang dikelola asing.

Jika kita percaya kepada diri sendiri maka PT. Freefort sudah dinasionlisasi, sehingga keuntungannya yang luar biasa besar dapat digunakan untuk meningkatkan pendidikan bahkan lebih dari 20% anggaran APBN pemerintah kita.

Jika kita percaya pada diri sendiri maka PT Pindad akan meningkatkan teknologinya, karena mereka tahu bahwa produksinya akan digunakan. Jika produksinya digunakan maka mereka memiliki dana untuk mengembangkan riset dan teknologi mereka, sehingga menghasilkan senjata yang tangguh dan mutakhir. Apa artinya embargo senjata bangsa asing jika kita sepenuhnya menggunakan hasil produksi senjata kita sendiri.

Jika kita percaya pada diri sendiri maka kita tidak akan menjual BUMN-BUMN dan aset lain secara murah dan jorjoran kepada asing, karena kita sadar bahwa kita menjual sesuatu yang sangat berharga dan bernilai tinggi. Kita harus tahu bahwa pihak asing sendiri dengan segala cara dan lobby berusaha untuk mendapatkan saham-saham BUMN-BUMN kita, bahkan sampai mempengaruhi kebijakan pembentukan perundangan di Gedung Dewan.

Jika kita percaya kepada diri sendiri maka jalan-jalan di Indonesia akan banyak dipenuhi oleh kendaraan produksi bangsa sendiri bukan mobil dan motor Jepang. Devisa kita tidak deras lari ke Jepang karena kita tidak jorjoran membeli mobil dan motor negara sakura itu.

Jika kita percaya pada diri sendiri maka kita tidak berhutang dengan IMF dan Bank Dunia. Kita akan sadar tanpa dana asing pun kita bisa bangkit. Apalagi pinjaman mereka memiliki konsekuansi yang merugikan bangsa ini dibelakang hari.

Jika kita percaya pada diri sendiri kita akan membeli produk dalam negeri. Dengan ini maka industri dan perdagangan kita hidup, yang akan menyerap angkatan kerja kita yang sekarang banyak menganggur. Dari situ keluarga keluarga mereka akan mendapatkan kesejahteraan, anak-anak mereka dapat menempuh pendidikan yang layak. Bangsa kita akan menjadi pintar, sehingga kita mampu memproduksi sendiri segala sesuatu yang kita butuhkan. Ini akan membuka peluang lapangan pekerjaan lainnya dan kesejahteraan masyarakat semakin luas.

Jika kita percaya pada diri sendiri, maka BUMN-BUMN tidak menyerap tenaga ahli dari luar negeri yang mahalnya bukan kepalang. Ada yang gajinya sebulan bisa sampai 2,5 M perbulan. Masya Allah. Kalau ini diserahkan kepada bangsa sendiri maka akan banyak profesional kita yang bekerja di luar negeri pulang dan memberikan keahlian dan tenaganya untuk bangsanya sendiri dengan biaya yang tidak terlalu mahal dan demi untuk bangsa sendiri.

Jika kita percaya kepada diri sendiri, maka tidak ada yang memborong dolar yang akan menjatuhkan rupiah.

Jika kita percaya kepada diri sendiri, tidak ada orang kaya yang berobat keluar negeri, yang menyebabkan devisa kita lari keluar. Tenaga ahli kesehatan kita akan terpakai.

Jika kita percaya kepada diri sendiri, maka bangsa kita tidak lari kebursa saham Singapura, Hongkong, Jepang atau negara lain.

Jika kita percaya kepada diri sendiri, maka rakyat akan percaya kepada pemerintah. Stabilitas nasional akan mantap dan membentuk sosial budaya yang kondusif. untuk membangun.

Jika kita percaya pada diri sendiri, maka kita akan menggunakan otak kita sendiri. Seperti halnya dengan pedang yang akan digunakan maka pemiliknya akan mengasah pedang tersebut. Kita akan belajar. Tidak ada rasa sia-sia sedikitpun pada saat kita berkorban dan berinvestasi untuk belajar. Sehingga bangsa kita akan lebih banyak yang pintar. Sebaliknya jika kita tidak merasa dihargai, kemampuan kita diabaikan. Putus asalah kita untuk menggunakan otak pemberian Allah SWT Sang Pencipta. Kita malas belajar dan akan semakin banyaklah yang bodoh pada bangsa kita.

Jika kita percaya kepada diri sendiri, maka berkobarlah rasa nasionalisme dan harga diri kita. Ini jelas akan menjadi energi kebangkitan kita. Mudahlah kita untuk berjaya dengan semangat ini.

Jika kita percaya kepada diri sendiri, maka kita tidak akan memilih pemimpin yang menyembah kepada kekuatan asing, karena kita percaya tanpa bantuan asing pun kita tetap bisa maju.

Jika kita percaya kepada diri sendiri, maka kita akan sangat menghargai prestasi-prestasi anak bangsa yang mengharumkan nama bangsa. Kita akan tahu karena kita sangat menghargainya. Kita akan tahu siapa pahlawan-pahlawan kita. Kita akan kenal siapa yang mendapatkan emas, perak atau perunggu di Olimpiadi Bejing. Kita akan tahu siapa-siapa anak bangsa kita yang mendapatkan prestasi gemilang di olimpiade fisika, di olimpiade matematika, kita akan tahu siapa pencipta kerangka tulang jalan layang di negara-negara modern, kita akan tahu prestasi-prestasi anak bangsa lain diluar negeri. Karena kita tahu maka mereka yang berprestasi akan merasa dihargai, mereka akan senang untuk berjuang kembali. Sebaliknya jika kita tidak menghargai prestasi mereka. Mereka merasa diabaikan. Meraka merasa sia-sia. Lelahlah mereka untuk berjuang kembali.

Jika kita percaya kepada diri kita sendiri, maka anak-anak kita akan diberi kesempatan setinggi-tingginya untuk mencapai cita-cita mereka. Sebaliknya jika kita tidak percaya pada diri sendiri, maka mungkin kita percaya kepada anak-anak kita, mana mungkin kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk meraih kesempatan untuk menggapai prestasi meraka.

Jika kita percaya kepada diri sendiri maka kita akan bersyukur kepada Sang Khalik, maka kita akan mempergunakan semua anuggrahNya untuk membangun bangsa ini secara positif. kita akan memanfaatkan potensi kita untuk kejayaan bangsa ini.

Jika kita percaya kepada diri sendiri maka kita akan mendapatkan satu, dua, tiga…. Seratus … Seribu… Sejuta… Semilyar prestasi bangsa ini, yang membawa kepada kejayaan. Kita percaya kepada diri sendiri maka kita akan bangkit. Akibat kebangkitan ini, akan mengukir prestasi dan keberhasilan Indonesia yang akan membentuk kepercayaan diri kita yang lebih tinggi lagi. Inilah modal kegemilangan bangsa ini. Kondisi ini yang disebut dengan lingkaran kepercayaan diri bangsa sebagai manifesto bangsa kita.

Kontemplasi bangsa disaat momen hari kemerdekaan ke 63 ini. Dapatlah disimpulkan bahwa sejatinya koreksi terhadap masalah kita sekarang ini adalah ada pada kepercayaan diri kita sendiri! Inferioritas kita terhadap bangsa lain! Tengoklah pada diri kita sendiri bukan kepada teman di sebelah kita.

 

Yokosuka Akan Dijadikan Basis Senjata Nuklir Amerika Jika Perang Dengan China dan Korea Utara

 

Rencana Presiden Bush untuk menjadikan negaranya sebagai super power satu-satunya dalam senjata nuklir terus direalisasikan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menempatkan kapal-kapal induk bertenaga dan bersenjata nuklir pada berbagai lokasi strategis dunia agar kejadian seperti kekalahan di Perl Harbur ketika melawan Jepang tidak terulang lagi. Strategi dengan menyebarkan kekuatan senjata nuklir ini dilakukannya dalam program jangka panjang pertahanan Amerika semesta.

Saat ini kekuatan senjata nuklir dunia masih didominasi oleh negara coboy ini, walaupun jumlah rudal berkepala nuklir dirahasiakan tetapi dari jumlah instalasi energi bersenjata nuklir sudah dapat diduga bahwa jumlah reaktor nuklir yang dimiliki suatu negara bisa dijadikan sebagai acuan yang mewakili jumlah peluru kendali berkepala nuklir.

Seperti data yang bersumber dari Uranium Information Centre, Australia ini: Amerika Serikat jumlah reaktor 104 unit, Perancis jumlah reaktor 59 unit, Jepang jumlah reaktor 55, Rusia jumlah reaktor 31, Republik Korea jumlah reaktor 20, Uni Kerajaan (Inggris) jumlah reakktor 19, Canada jumlah reakktor 18, Jerman jumlah reaktor 17 unit, India jumlah reaktor 17 unit dan Ukraina. ( Sumber Data: Uranium Information Centre, Australia. Data: Oktober 2007)

Dari data tersebut terlihat hampir separuh dari jumlah reaktor nuklir seluruh dunia adalah milik Amerika Serikat, hal ini dapat katakan bahwa jumlah cadangan uranium yang sudah dilakukan pengayaan merupakan yang terbesar di dunia. Uranium yang sudah dilakukan proses pengayaan dapat dijadikan sebagai sumber energi atau senjata nuklir.

Ketakutan Amerika atas perkembangan China akhir-akhir ini banyak membuat resah para pejabat Gedung Putih dan Pantagon. Inilah yang menyebabkan rencana jangka panjang untuk menjadikan Jepang sebagai lokasi strategis untuk menghantam China dan Korea Utara dengan senjata nuklir jika ada kemungkinan ancaman yang akan diberikan oleh negara tersebut. Hal inilah yang menjadikan para aktifis anti perang dan penyelamat lingkungan menjadikan Yokosuka sebagai pusat gerakan menentang perang Rejim Bush.

Pada Sabtu 19 Juli 2008 yang lalu sebanyak 15.000 aktifis melakukan rapat besar di Kota Yokosuka untuk memprotes rencana penggelaran sebuah kapal induk AS bertenaga dan bersenjata nuklir USS George Washington.

Kapal induk ini akan berlabuh di pelabuhan Yokosuka untuk menggantikan kapal induk konvensional USS Kitty Hawk. Hal yang lebih menakutkan lagi bagi warga Yohosuka atas kedatangan kapal induk yang berbobot mati 102.000 ton itu adalah kejadian diatas kapal induk yang mengangkut bahan nuklir tersebut adalah kejadian kebakaran ketika sedang berlayar di Samudra Fasifik Amerika Selatan. Bagaimana jika kejadian seperti ini terulang lagi dipelabuhan Yokosuka?

Pemimpin Partai Demokrat Sosial Mizuho Fukushima dalam satu pidato pada unjukrasa itu mengatakan bahwa; “Satu kapal induk berbahan nuklir adalah lebih berbahaya ketimbang generasi kekuatan nuklir”. Dalam kaitannya dengan perang global AS yang selalu memaksa Jepang ikut, ia juga berkomentar, “Jepang , yang memiliki konstitusi damai, harus tidak terlibat dalam perang tak pantas AS.”

Dalam unjuk rasa, berbagai sepanduk anti perang digelar, dari yang mengecam serangan ke Libia, Afghanistan, Irak, Sudan. Sampai masa lalu AS yang menghancurkan Vietnam, dosa Amerika atas bom atom Hiroshima Nagasaki sampai pelecehan tentara marinir AS terhadap seorang anak gadis Jepang.

Para pemrotes juga mengeluarkan sebuah pernyataan menentang penggelaran kekuatan kapal induk itu bahwa tindakan tersebut menghambat pembangunan perdamaian di Asia timur laut dan akan menimbulkan gangguan besar pada penduduk daerah metropolitan Tokyo seandainya satu kecelakaan terjadi, seperti yang dikutip dari kantor berita Kyodo.