Indonesia – Malaysia Jalin Pengembangan Industri Strategis

E-mail Print PDF
Kerjasama Strategis RI-Malaysia

Indonesia dan Malaysia sepakat menjalin kerjasama pengembangan industri strategis dalam konteks kerjasama ASEAN. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan MoU antara Presdir PT Pindad, Adik Avianto Soedarsono, dan CEO PT SME Ordnance Sdn Bhd, Tan Sri Mohd Shahrom Nordin dan disaksikan oleh PM Malaysia, Najib Tun Razak; Menteri Pertahanan Malaysia, Dr Ahmad Zahid Hamidi; Menteri Pertahanan RI, Prof Dr Purnomo Yusgiantoro; Menteri Negara BUMN, Mustafa Abubakar serta Duta Besar RI, Da’i Bachtiar (22/4/2010).

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan pada hari terakhir pameran dan konferensi Defence Service Asia (DSA) ke-12 yang berlangsung di Putra World Trade Center (PWTC), Kuala Lumpur, 19 – 22 April 2010.

BACA LANJUTANNYA

Iklan

Badai Gustav Menjadi Keberkahan Obama?

Oleh Heri Hidayat Makmun

Diluar faktor badai ini sebenarnya Obama sudah sangat unggul dibandingkan dengan McCain Dalam hasil polling yang diselenggarakan USA Today menunjukkan 50% respenden Obama, sedangkan McCain hanya mendapat 43%. Polling lain yang dilakukan oleh CBS, Obama mendapatkan 48% dan McCain 40% dari 875 responden.

Dukungan rakyat Amerika terhadap Obama semakin meningkat paska konvensi Partai Demokrat yang dihadiri oleh 80 ribu pendukungnya di Denver, Colorado.

Menurut CBS 71% peningkatan yang terjadi pada Obama karena 38 juta warga menyaksikan pidato Obama setelah menyaksikan dari stasiun televisi.

Sementara McCain yang di daulat Partai Republik yang akan melakukan konvensi bersamaan dengan bencana badai Gustav, sehingga perhatian rakyat Amerika dan media massa terbagi dua.

Konvensi Partai Republik yang diselenggarakan di Saint Paul, Minnesota, sepi dari liputan medai massa AS. Selain itu karena merasa kurang nyaman dan takut menimbulkan prasangka bahwa partai ini kurang sensitif terhadap bencana Gustav, akhirnya konvensi ini pun diperpendek.

Sebenarnya Presiden Bush sendiri ingin hadir dalam konvensi Partai Republik tersebut, tetapi akhirnya dibatalkan dan lebih memilih untuk memperhatikan badai Gustav. Atensi Bush pada konvensi tersebut akhirnya hanya dilakukan secara visual dengan teknologi telekonfren.

Akibat badai Gustav ini Obama lebih banyak mendapatkan manfaat dari konvensi partainya dibandingkan dengan McCain yang juga melakukan konvensi yang sama.

McCain = Bush?

Oleh Sumantiri B. Sugeo

“Oderint dum metuant – Tak apa mereka benci asalkan mereka takut”
Praktek politik militer Kekaisan Romawi dalam mempertahankan wilayah ke-empire-annya.

Setiap sejarah bangsa melahirkan slogan-slogan yang menjadi idelogi. Cara berfikir konservatif yang umumnya muncul dari kalangan republikan AS membentuk semacam indogkrinasi yang sulit untuk berubah. Fenomena ini dapat terlihat dari para tokoh republikan. Salah satunya adalah McCain yang didaulat menjadi Calon Presiden AS dari Partai Republik berdasarkan hasil konvensi nasional partai tersebut.

Memori masa lalu ketika AS memenangkan perang dunia II (World War II) menjadi kenangan manis yang menyandu, ketika AS dianggap sebagai hero dari negara-negara sekutu sekaligus sebagai kekuatan adidaya satu-satunya di dunia. Praktis seluruh kawasan dunia berada di bawah hegemoni barat yang dikomandoi oleh AS. Paradigma inilah yang membentuk kalimat seperti:

“In Praise of American Empire”
Dinesh D’Soize, Hooper Institution

Empire yang sudah dibangun hasil dari invansi yang sudah-sudah.

Pada contoh kasus-kasus seperti Grenada, El Salvador dan Nikaragua. Bisa dilihat walaupun tidak ada keuntungan ekonomi yang dijanjikan, tetapi kemandirian negara-negara dunia ketiga yang tidak terikat pada Washington akan mendapatkan stigma “membahayakan”. Negara seperti ini tidak akan dijadikan sekutu. Ancaman embargo ekonomi sampai pada invansi militer harus siap ditanggungnya. Faktor ekonomi menjadi nomor dua, strategi wilayah dianggap menjadi penting.

Paska runtuhnya Uni Soviet yang ditandai dengan dirubuhkannya tembok Berlin, ternyata kebijakan AS tidak berubah. Ditahun 1993 mereka menyerang Somalia dengan maksud ikut campur untuk menata ulang peta politik negara tersebut.

AS juga Ikut campur juga untuk menumpas gerakan perlawanan di Peru, Meksiko, Kolombia, dan Ekuador. Hal ini dilakukan di Amerika Latin di tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an sampai tahun 1990-an.

Setelah AS menghujani Irak dengan bom tahun 1991. Penyerbuan ini dilakukan sebelum invansi AS atas Irak yang sekarang. AS mendirikan pangkalan militer di Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab. Kemudian operasi badai gurun dilancarkan kembali sampai saat ini.

Pada ikut dalam konflik Yugoslavia di tahun 1999 yang akhirnya negara ini pecah. AS mendirikan pangkalan senjata di Kosovo, Georgia, Albania, Bulgaria, Makedonia, Hungaria, Bosnia, dan Kroasia. Kemudain setelah menginvansi Afghanistan tahun 2001 sampai saat ini. AS mendirikan pangkalan militer di Afghanistan, Pakistan, Kazakhstan, Georgia, Yaman dan Djibouti.

Di Jepang, Korea Selatan, Taiwan AS juga mendirikan pangkalan militernya. Bahkan Yukosuka pangkalan marinir AS di Jepang dijadikan sebagai pusat kekuatan nuklir di Asia Timur. Berbagai kapal induk berkekuatan nuklir hilir mudik disini, contoh seperti Kapal Induk USS George Washington. Pemimpin Partai Demokrat Sosial Mizuho Fukushima dalam satu pidato pada unjukrasa itu mengatakan bahwa; “Satu kapal induk berbahan nuklir adalah lebih berbahaya ketimbang generasi kekuatan nuklir”. Dalam kaitannya dengan perang globar AS yang selalu memaksa Jepang ikut, ia juga berkomentar, “Jepang , yang memiliki konstitusi damai, harus tidak terlibat dalam perang tak pantas AS.”

As juga mempertahankan sebuah perebutan wilayah yang dilakukan secara tidak sah oleh Israel terhadap bangsa Palestina yang lemah secara militer dan sumber daya. Mereka harus menghadapi mesin perang canggih buatan AS.

Sulit diterima akal pikiran sehat bagi bangsa yang tidak mengalami kemenangan World War II. Efek dari World War II masih terus berlanjut. Hal tersebut terlihat kali ini. Ketika seorang calon presiden dari Partai Republik secara berani melakukan tawaran kepada warga AS untuk menjadikan AS sebagai fasisme baru. Tawaran ini diberikan oleh McCain justru disaat kesadaran dunia kepada arti sebuah cinta dan perdamaian semakin meningkat. Kalau boleh penulis memberikan sebuah kalimat yang cukup tepat untuk McCain : “Hidup di babak sejarah yang tidak tepat.”

Sejah Hitler. Musolini dan Kaisar Hirohito yang pernah membangun ke-empire-an di atas puing-puing negeri yang terjajah sekedar untuk memasang sebuah bendera kebanggaan dengan membunuh ribuan bahkan jutaan nyawa manusia. Ini jelas sulit dipahami oleh bangsa lain. Apakah McCain akan menjadi bagian dari mereka?

Secara berani McCain memberikan sebuah jawaban yang sangat jelas atas pertanyaan ini kepada peserta konvensi Partai Republik. McCain berkata : “American state will continue to building national empire.” Ini artinya pembunuhan masal akan diteruskan, menghabiskan anggaran militer untuk invansi juga akan diteruskan, mengirimkan anak-anak AS yang sehat ke medan perang, kemudian dipaketkan pulang dalam peti jenazah juga akan terus berlanjut.

Hal ini dikatakan McCain dengan tersenyum dalam konvensi tersebut. Sebuah senyum yang teramat mahal untuk dibayar oleh umat manusia di bumi. Untuk melanjutkan Bush administration di semua penjuru dunia. Suatu kebijakan yang sangat ditentang bukan saja oleh negara-negara korban seperti Afghanistan, Irak, Vietnam, Korea Utara, Somalia, Libia, Cile, Cuba, Venejuela, dan lainnya, tetapi juga seluruh warga dunia yang mulai sadar akan pentingnya sebuah perdamaian bagi masa depan bumi ini, bahkan juga sebagian besar warga AS sendiri yang cinta damai.

Kerjasama Militer China – Rusia dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Amerika Serikat di Asia Timur

Oleh Heri Hidayat Makmun

Bisa dikatakan abad ini merupakan abad kekuatan alternatif yang tumbuh. Kekuatan baru tersebut umunya muncul di Eropa Timur dan Asia.

Rusia merupakan salah satu yang baru bangkit dari keterpurukan paska kehancuran Uni Soviet yang berada di Eropa Timur dan China yang mengalami tidur panjang juga mengalamai kebangkitan yang sama.

Kedua negara ini baik secara ekonomi maupun militer mengalami kemajuan yang mengesankan. Bahkan kebangkitan China bisa dikatakan fenomenal.

Dua negara ini pada tahun 2005 yang lalu juga melakukan latihan militer bersama yang mereka beri nama “Misi Perdamaian 2005”.

Simulasi perang yang dilakukan di tiga kawasan tersebut yaitu di Semenanjung Jiadong, Laut Kuning, dan pangkalan Vladivostok tersebut dilakukan selama seminggu.

Ada opsi pertama untuk melakukan latihan di Xianjian dan Zhejiang yang berdekatan dengan Taiwan, tetapi dibatalkan karena alasan terlalu provokatif.

Dalam latihan tersebut Rusia berkesempatan untuk menunjukkan teknologinya kepada China yang bakal menjadi calon konsumen utamanya dalam perdagangan perangkat perang tersebut.

Mesin perang Rusia yang diikutsertakan dalam latihan tersebut seperti TU 22M3 Bear yang merupakan pesawat pembom jarak jauh. TU95S yang digunakan sebagai pembom strategis. Kedua senjata ini mampu membawa bom konvensional dan bom nuklir.

Pesawat tempur Sukhoi 27SM dengan kemampuan rudal udara ke permukaan (air to surface) AS-15 yang mampu menjangkau 3000 km. dan Kapal serbu BDK-11 yang memiliki kemampuan antikapal selam Marshal Shaposhnikov.

China berencana akan meningkatkan anggaran militer sampai sebesar 18% dari tahun lalu sehingga mencapai sebesar 417 miliar yuan ( 59 miliar USD ), tetapi menurut pengamat berdasarkan kebiasaan China dalam menetapkan anggaran riilnya tidak dapat semata melihat anggaran angka resminya. Bisa jadi akan teralisasi sampai dua sampai tiga kali lipat dari angka resminya.

Anggaran yang besar ini akan sangat efektif jika China berkolaborasi dengan Rusia dalam suatu kerjasama militer. Bisa China hanya menjadi konsumen mesin militer Rusia saja atau bahkan China menjadi investor terhadap riset dan pengembangan teknologi militer Rusia yang potensial.

Jiang Enchu seorang juru bicara National People Congress berdalih bahwa kenaikan anggaran militer ini hanya untuk meningkatkan gaji tentara dan mengakomodasi biaya bahan bakar yang dikwatirkan meningkat.

Seperti yang diberitakan VOA bahwa pantagon melaporkan dalam laporan yang diterbitkan hari Selasa (19/08/2008), Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengatakan laju kecepatan yang dibuat China dalam mempermoderen pasukan militernya menunjukkan China kini bukan hanya mempertimbangkan hubungannya dengan Taiwan, tetapi justru China telah mengancam akan menggunakan kekuatan militernya jika Taiwan menyatakan kemerdekaan.

Masih menurut laporan itu tersebut, China kini memiliki sekitar 710 sampai 790 rudal balistik jarak-dekat, naik dari tahun lalu, dan tentunya dengan anggaran militer yang meningkat China dapat membeli TU 22M3 Bear atau TU95S Rusia yang canggih.

Tentunya bagi AS dan sekutu Asianya yaitu Taiwan dan Jepang hal ini merupakan ancaman serius. Mau tidak mau Amerika akan mengambil peran yang lebih dalam untuk membantu sekutu Asia Timurnya ini.

Bisa ditebak kerja sama militer China – Rusia akan menarik perhatian Amerika Serikat ke Asia Timur lebih dalam dari kebijakan AS sebelumnya.

Konflik Rusia – Georgia dan Kesalahan Mikhail Saakashvili

Oleh Heri Hidayat Makmun

Ossetia Selatan yang merupakan negara merdeka diproklamasikan setelah melalui perang tahun 1991-1992, tetapi sayangnya karena usaha NATO dan AS untuk tidak memasukkan peta Ossetia Selatan sebagai negara merdeka di Forum PBB.

Akibat kesalahan besar inilah yang menganggap seakan-akan Ossetia Selatan adalah provinsi dari Georgia.

Pandangan ini telah menempatkan Rusia seakan-akan sebagai penyebab ketidakstabilan keamanan Kaukasus. Padahal usaha Rusia justru bertindak untuk menjaga kestabilan keamanan Kaukasus.

Rusia hanya beraksi terhadap tindakan Georgia yang telah menyerang terlebih dahulu Ossetia Selatan yang merdeka. Tindakan Rusia “jauh lebih sopan dibandingkan dengan kebiasaan AS” karena telah melalui pakta penyerangan Georgia terhadap Ossetia Selatan.

Rusia hanya menginginkan bahwa pasukan Georgia ditarik mundur dari invansinya di Ossetia Selatan. Merupakan hal yang wajar jika Rusia bereaksi seperti itu.

Presiden Georgia Mikhail Saakashvili merasa bahwa jika dia menyerang Ossetia Selatan maka barat terutama NATO dan AS akan siap berada dibelakangnya. Kesan ini didapat setelah ada lampu hijau bagi Georgia untuk menjadi bagian dari NATO dan masyarakat Eropa, sehingga NATO dan AS dianggapnya tidak hanya mendukung suara tetapi tindakan militer tegas jika Rusia menyerang Georgia.

Peta politik internasional sekarang ini tidak bisa memandang rendah Tiga Negara Bangkit abad ini yaitu Rusia, China dan India yang akan sedikit demi sedikit menguasai sendi-sendi kekuatan diplomatik dan militer dunia untuk memasuki kancah sebagai aktor “perpolisian dunia” dengan alasan stabilitas keamanan internasional.

Barat sangat berharap terhadap Rusia untuk menggunakan pengaruhnya di Timur Tengah yang sekarang sedang berkomplik, tekanan ke Iran, dan Korea Utara.

Saakashvili menganggap remeh hal-hal ini, sehingga dengan mudahnya Saakashvili mencederai Kaukasus dengan asap militer terhadap Ossetia Selatan.

Amerika Serikat sendiri sudah kehilangan darah untuk melakukan tindakan militer sekarang ini. Amerika telah mengeluarkan dana sebesar 162 milyar USD untuk meneruskan perang di Afghanistan dan Irak. Itu belum cukup karena kemungkinan Pantagon masih membutuhkan dana sebesar 125 milyar USD lagi.

Jika dana untuk menyerang Afghanistan dan Irak saja sebesar itu harus berapa dana yang dikeluarkan untuk menyerang Rusia, yang hanya sekedar untuk mendukung tindakan bodoh Saakashvili.

Yokosuka Akan Dijadikan Basis Senjata Nuklir Amerika Jika Perang Dengan China dan Korea Utara

 

Rencana Presiden Bush untuk menjadikan negaranya sebagai super power satu-satunya dalam senjata nuklir terus direalisasikan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menempatkan kapal-kapal induk bertenaga dan bersenjata nuklir pada berbagai lokasi strategis dunia agar kejadian seperti kekalahan di Perl Harbur ketika melawan Jepang tidak terulang lagi. Strategi dengan menyebarkan kekuatan senjata nuklir ini dilakukannya dalam program jangka panjang pertahanan Amerika semesta.

Saat ini kekuatan senjata nuklir dunia masih didominasi oleh negara coboy ini, walaupun jumlah rudal berkepala nuklir dirahasiakan tetapi dari jumlah instalasi energi bersenjata nuklir sudah dapat diduga bahwa jumlah reaktor nuklir yang dimiliki suatu negara bisa dijadikan sebagai acuan yang mewakili jumlah peluru kendali berkepala nuklir.

Seperti data yang bersumber dari Uranium Information Centre, Australia ini: Amerika Serikat jumlah reaktor 104 unit, Perancis jumlah reaktor 59 unit, Jepang jumlah reaktor 55, Rusia jumlah reaktor 31, Republik Korea jumlah reaktor 20, Uni Kerajaan (Inggris) jumlah reakktor 19, Canada jumlah reakktor 18, Jerman jumlah reaktor 17 unit, India jumlah reaktor 17 unit dan Ukraina. ( Sumber Data: Uranium Information Centre, Australia. Data: Oktober 2007)

Dari data tersebut terlihat hampir separuh dari jumlah reaktor nuklir seluruh dunia adalah milik Amerika Serikat, hal ini dapat katakan bahwa jumlah cadangan uranium yang sudah dilakukan pengayaan merupakan yang terbesar di dunia. Uranium yang sudah dilakukan proses pengayaan dapat dijadikan sebagai sumber energi atau senjata nuklir.

Ketakutan Amerika atas perkembangan China akhir-akhir ini banyak membuat resah para pejabat Gedung Putih dan Pantagon. Inilah yang menyebabkan rencana jangka panjang untuk menjadikan Jepang sebagai lokasi strategis untuk menghantam China dan Korea Utara dengan senjata nuklir jika ada kemungkinan ancaman yang akan diberikan oleh negara tersebut. Hal inilah yang menjadikan para aktifis anti perang dan penyelamat lingkungan menjadikan Yokosuka sebagai pusat gerakan menentang perang Rejim Bush.

Pada Sabtu 19 Juli 2008 yang lalu sebanyak 15.000 aktifis melakukan rapat besar di Kota Yokosuka untuk memprotes rencana penggelaran sebuah kapal induk AS bertenaga dan bersenjata nuklir USS George Washington.

Kapal induk ini akan berlabuh di pelabuhan Yokosuka untuk menggantikan kapal induk konvensional USS Kitty Hawk. Hal yang lebih menakutkan lagi bagi warga Yohosuka atas kedatangan kapal induk yang berbobot mati 102.000 ton itu adalah kejadian diatas kapal induk yang mengangkut bahan nuklir tersebut adalah kejadian kebakaran ketika sedang berlayar di Samudra Fasifik Amerika Selatan. Bagaimana jika kejadian seperti ini terulang lagi dipelabuhan Yokosuka?

Pemimpin Partai Demokrat Sosial Mizuho Fukushima dalam satu pidato pada unjukrasa itu mengatakan bahwa; “Satu kapal induk berbahan nuklir adalah lebih berbahaya ketimbang generasi kekuatan nuklir”. Dalam kaitannya dengan perang global AS yang selalu memaksa Jepang ikut, ia juga berkomentar, “Jepang , yang memiliki konstitusi damai, harus tidak terlibat dalam perang tak pantas AS.”

Dalam unjuk rasa, berbagai sepanduk anti perang digelar, dari yang mengecam serangan ke Libia, Afghanistan, Irak, Sudan. Sampai masa lalu AS yang menghancurkan Vietnam, dosa Amerika atas bom atom Hiroshima Nagasaki sampai pelecehan tentara marinir AS terhadap seorang anak gadis Jepang.

Para pemrotes juga mengeluarkan sebuah pernyataan menentang penggelaran kekuatan kapal induk itu bahwa tindakan tersebut menghambat pembangunan perdamaian di Asia timur laut dan akan menimbulkan gangguan besar pada penduduk daerah metropolitan Tokyo seandainya satu kecelakaan terjadi, seperti yang dikutip dari kantor berita Kyodo.

2008 IS YEAR OF HEROIS OF SITI FADILAH SUPARI

This year may we say as best movement of Siti Fadilah Supari to fight for people health in thirt nations.  For her struggle, An Indonesian Voices gift her a honer as Indonesian Hero and Year of Siti Fadilah Supari version of Indonesian Voices.

The Magazine of Economist London set Fadilah as The Changer Figure to begin the reform of World Health Organization and save the people in the world from bird flu fandemic.

The bird flu fandemic denger more and more wide disseminating in Indonesia and world, specialy in Indonesia, Thailand, China and more other country in Asia. The 22 of Country set and back up of Siti Fadilah Supari movement for get bird flu vaccin, their are Thailand, Vietnam, Malaysia, Saudi Arabia and etc to reform the mechanism of sending the virus sample to WHO Collaborating Center in Hongkong that bring from the bird flu fandemic country.

As We know sharing virus practice has been effective for more than 50 years, but actually, it is harmed poor country and the country where is virus come from. While vaccine manufacturer owned by progress country can take virus easily without permission from the owner and developed it become other diagnostic product and vaccine then sell it to poor country and develop it with high price.