Yokosuka Akan Dijadikan Basis Senjata Nuklir Amerika Jika Perang Dengan China dan Korea Utara

 

Rencana Presiden Bush untuk menjadikan negaranya sebagai super power satu-satunya dalam senjata nuklir terus direalisasikan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menempatkan kapal-kapal induk bertenaga dan bersenjata nuklir pada berbagai lokasi strategis dunia agar kejadian seperti kekalahan di Perl Harbur ketika melawan Jepang tidak terulang lagi. Strategi dengan menyebarkan kekuatan senjata nuklir ini dilakukannya dalam program jangka panjang pertahanan Amerika semesta.

Saat ini kekuatan senjata nuklir dunia masih didominasi oleh negara coboy ini, walaupun jumlah rudal berkepala nuklir dirahasiakan tetapi dari jumlah instalasi energi bersenjata nuklir sudah dapat diduga bahwa jumlah reaktor nuklir yang dimiliki suatu negara bisa dijadikan sebagai acuan yang mewakili jumlah peluru kendali berkepala nuklir.

Seperti data yang bersumber dari Uranium Information Centre, Australia ini: Amerika Serikat jumlah reaktor 104 unit, Perancis jumlah reaktor 59 unit, Jepang jumlah reaktor 55, Rusia jumlah reaktor 31, Republik Korea jumlah reaktor 20, Uni Kerajaan (Inggris) jumlah reakktor 19, Canada jumlah reakktor 18, Jerman jumlah reaktor 17 unit, India jumlah reaktor 17 unit dan Ukraina. ( Sumber Data: Uranium Information Centre, Australia. Data: Oktober 2007)

Dari data tersebut terlihat hampir separuh dari jumlah reaktor nuklir seluruh dunia adalah milik Amerika Serikat, hal ini dapat katakan bahwa jumlah cadangan uranium yang sudah dilakukan pengayaan merupakan yang terbesar di dunia. Uranium yang sudah dilakukan proses pengayaan dapat dijadikan sebagai sumber energi atau senjata nuklir.

Ketakutan Amerika atas perkembangan China akhir-akhir ini banyak membuat resah para pejabat Gedung Putih dan Pantagon. Inilah yang menyebabkan rencana jangka panjang untuk menjadikan Jepang sebagai lokasi strategis untuk menghantam China dan Korea Utara dengan senjata nuklir jika ada kemungkinan ancaman yang akan diberikan oleh negara tersebut. Hal inilah yang menjadikan para aktifis anti perang dan penyelamat lingkungan menjadikan Yokosuka sebagai pusat gerakan menentang perang Rejim Bush.

Pada Sabtu 19 Juli 2008 yang lalu sebanyak 15.000 aktifis melakukan rapat besar di Kota Yokosuka untuk memprotes rencana penggelaran sebuah kapal induk AS bertenaga dan bersenjata nuklir USS George Washington.

Kapal induk ini akan berlabuh di pelabuhan Yokosuka untuk menggantikan kapal induk konvensional USS Kitty Hawk. Hal yang lebih menakutkan lagi bagi warga Yohosuka atas kedatangan kapal induk yang berbobot mati 102.000 ton itu adalah kejadian diatas kapal induk yang mengangkut bahan nuklir tersebut adalah kejadian kebakaran ketika sedang berlayar di Samudra Fasifik Amerika Selatan. Bagaimana jika kejadian seperti ini terulang lagi dipelabuhan Yokosuka?

Pemimpin Partai Demokrat Sosial Mizuho Fukushima dalam satu pidato pada unjukrasa itu mengatakan bahwa; “Satu kapal induk berbahan nuklir adalah lebih berbahaya ketimbang generasi kekuatan nuklir”. Dalam kaitannya dengan perang global AS yang selalu memaksa Jepang ikut, ia juga berkomentar, “Jepang , yang memiliki konstitusi damai, harus tidak terlibat dalam perang tak pantas AS.”

Dalam unjuk rasa, berbagai sepanduk anti perang digelar, dari yang mengecam serangan ke Libia, Afghanistan, Irak, Sudan. Sampai masa lalu AS yang menghancurkan Vietnam, dosa Amerika atas bom atom Hiroshima Nagasaki sampai pelecehan tentara marinir AS terhadap seorang anak gadis Jepang.

Para pemrotes juga mengeluarkan sebuah pernyataan menentang penggelaran kekuatan kapal induk itu bahwa tindakan tersebut menghambat pembangunan perdamaian di Asia timur laut dan akan menimbulkan gangguan besar pada penduduk daerah metropolitan Tokyo seandainya satu kecelakaan terjadi, seperti yang dikutip dari kantor berita Kyodo.

Mari Ikut Dalam Gerakan Bersama Sedunia Memotong Mata Rantai Penyebaran Virus Flu Burung Demi Menyelamatkan Jiwa Umat Manusia di Bumi

Oleh Heri Hidayat Makmun

( Silahkan copy paste, translate ke berbagai bahasa dan sebarkan ) 

Tingkat dan metode penularan flu burung semakin menjadi kekhawatiran dunia setelah beberapa kasus ditemukan di Turki dengan tingkat penyebaran yang diduga sangat cepat. Negara-negara Eropa kini berjaga-jaga karena flu burung – yang pertama muncul di Asia Timur – telah mencapai Turki yang dilihat sebagai jembatan yang menghubungkan Asia dan Eropa.

Para ilmuwan khawatir wabah global jenis virus flu burung yang mematikan pada manusia akan melanda sebentar lagi karena wabah semacam ini cenderung terjadi tiga atau empat kali dalam masa satu abad. Flu burung kemungkinan besar akan menjadi pemicunya. Satu kasus saja yang menjadi penyebab penyakit itu – H5N1 – menimbulkan kekhawatiran besar.

Virus ini amat mudah menular dan mematikan pada unggas yang disebarkan lewat unggas. H5N1 sudah menyebabkan puluhan orang meninggal dunia sejak pertama kali muncul di Asia Tenggara pada 2003. Para pakar menduga tidak lama lagi virus itu akan berubah sifat dan mengembangkan kemampuan untuk ditularkan dengan mudah di kalangan manusia.

Penyebaran yang dilakukan dengan media udara, debu, atau sentuhan langsung, sehingga virus ini lebih berbahaya dari pada virus penyebab AIDS atau lainnya jika dilihat dari mekanisme penularannya.

Jenis flu burung baru yang mampu memicu pandemi mematikan dapat bermutasi apabila virus flu burung bergabung dengan virus influenza manusia. Hal ini bisa terjadi apabila seorang manusia tertular kedua jenis flu tadi pada saat yang bersamaan. Dikhawatirkan jenis virus baru itu dapat menyebar dengan mudah dan cepat, menewaskan penderitanya dalam jumlah besar. Orang-orang yang tidak memiliki kekebalan tubuh prima tidak dapat menangkal infeksi tersebut.Penyakit itu bisa membunuh sekitar dua juta orang di seluruh dunia dan banyak lainnya akan tertular. Hal ini didasari dari perkiraan para ahli.

Melihat potensi masa depan yang semakin berbahaya, sangat penting artinya bagi umat manusia untuk terus mendukung usaha-usaha Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari untuk mereformasi organisasi dunia WHO demi menyelamatkan nyawa jutaan umat manusia yang berada di negara miskin, negara-negara dunia ketiga.

Demi hak hidup jutaan nyawa tersebut suara Siti Fadilah Supari harus tetap didengar dan kita harus menjaga agar dia tetap dapat terus berbicara untuk menegakkan keadilan dan akses vaksin dan obat flu burung bagi negara-negara miskin. Semua negara harus mendapatkan akses obat yang murah. Tidak akan bisa memutuskan mata rantai penyebaran virus flu burung jika ada salah satu negara saja gagal dalam menangani penyebaran virus ini.

Bahwa kerawanan dan potensi penyebaran virus flu burung dalam jangka panjang sangat mengkewatirkan oleh karena itu, harus ada upaya-upaya untuk melakukan pencegahan penularan baik dengan proteksi pada peternakan unggas,  satwa liar kebun binatang, maupun satwa liar secara cepat dan sistematis di seluruh dunia, terutama pada negara-negara yang telah jatuh korban kematian akibat virus H5N1 ini seperti China, Indonesia, Thailand, Vietnam, India dan lainnya. 

Kesempatan untuk menyelamatkan generasi manusia hanya ada pada saat-saat sekarang ini, jika virus ini bermutasi lebih cepat dari yang kita perkirakan maka kita akan berada pada kondisi terkejar pandemi yang telah menyebar luas dan maut bagi umat manusia tak dapat dihindari lagi.

Jika memang betul proses penularan sudah sampai pada generasi virus yang bermutasi dengan kemampuan menularkan dari manusia ke manusia, kecepatan penyebaran bukan secara deret hitung (1,2,3, dan seterusnya ), tetapi secara deret ukur yang berlipat-lipat (1,2,4,8, dan seterusnya). Sekali lagi kesempatan kita ada pada saat sekarang ini, jangan lengah mari berkerja bahu membahu memutus mata rantai virus ini diseluruh dunia.

Perlu pengadaan vaksin obat yang dilakukan dengan pengembangan penelitian dari pihak-pihak non komersial, atau gabungan pemerintah negara-negara di seluruh dunia. Melakukan penelitian secara bersama diantara negara-negara di dunia. Berbuat secara tulus dan demi menyelamatkan nyawa jutaan umat manusia dan demi kelangsungan spesies manusia.

Posisi Pemerintah Indonesia dalam masalah ini harus menjadi pemimpin dan pelopor untuk terwujudnya hal tersebut, diharapkan Pemerintah SBY melakukan tindakan-tindakan diplomasi dan menjalin kerjasama dalam kawasan regional ASEAN dan internasional dengan negara-negara lainnya dalam menangani terjadinya pandemik virus avian influenza H5N1.

Pemerintah juga harus terus meyakinkan pihak WHO agar organisasi ini kembali pada khitahnya untuk secaran tulus menyelamatkan jiwa manusia, dan menghentikan kerjasama komersial yang secara ilegal menyerahkan 51 sampel virus flu burung kepada perusahaan tanpa memperhatikan hak para korban dan negara asal dari virus tersebut.

Akses data yang berada di dan berusaha agar WHO dapat menjadi penyedia vaksin media dan terus berupaya untuk terus melakukan penelitian yang lebih transfaran, dan agar data penelitian dapat diakses oleh seluruh peneliti di dunia agar proses penelitian dapat cepat menemukan cara penanggulangan virus ini, dan juga cepat menemukan vaksin yang lebih murah dan mudah untuk diproduksi diseluruh dunia.

Proses penelitian yang terbuka dan transparan ini penting artinya agar menghindari penggunaan sampel virus avian influenza ini dijadikan senjata pemusnah masal yang mengerikan.  Kenapa hal ini penting karena pada kenyataanya akses untuk mendapatkan data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC tidak bisa dilakukan seperti yang pernah dialami The Straits Times Singapura pada tanggal 27 Mei 2006.

Sebagai usaha kita untuk ikut juga memerangi penyebaran flu burung ini mari ikut menyebarkan tulisan ini. Silahkan dicopy paste dan dipostingkan dalam blog atau website Anda, atau dicetak dan dibagikan kepada teman-teman di seluruh dunia agar menjadi gerakan bersama di planet bumi ini untuk memotong mata rantai penyebaran virus H5N1 ini.  Dan bagi yang memahami bahasa-bahasa diseluruh di agar ditranslate dan disebarkan dengan bahasa setempat.

 

 

2008 IS YEAR OF HEROIS OF SITI FADILAH SUPARI

This year may we say as best movement of Siti Fadilah Supari to fight for people health in thirt nations.  For her struggle, An Indonesian Voices gift her a honer as Indonesian Hero and Year of Siti Fadilah Supari version of Indonesian Voices.

The Magazine of Economist London set Fadilah as The Changer Figure to begin the reform of World Health Organization and save the people in the world from bird flu fandemic.

The bird flu fandemic denger more and more wide disseminating in Indonesia and world, specialy in Indonesia, Thailand, China and more other country in Asia. The 22 of Country set and back up of Siti Fadilah Supari movement for get bird flu vaccin, their are Thailand, Vietnam, Malaysia, Saudi Arabia and etc to reform the mechanism of sending the virus sample to WHO Collaborating Center in Hongkong that bring from the bird flu fandemic country.

As We know sharing virus practice has been effective for more than 50 years, but actually, it is harmed poor country and the country where is virus come from. While vaccine manufacturer owned by progress country can take virus easily without permission from the owner and developed it become other diagnostic product and vaccine then sell it to poor country and develop it with high price.