Kekuatan Diplomasi Sukarno Menundukan Timur dan Barat

(Bukti Efektifitas Diplomasi Sukarno Memainkan Peranan Sebagai Pemimpin Negara-Negara Dunia Ketiga di KAA Bandung untuk Merebut Papua Barat dari Tangan Belanda)

Oleh Sumantiri B. Sugeo

Pergololakan sejarah Indonesia dari tahun 1957 sampai 1958, merupakan pergolakan Pemimpin Revolusi Kemerdekaan Indonesia Sukarno yang bertentangan dengan beberapa negara barat (Belanda, Portugal dan Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Ada satu kalimat yang sampai sekarang sering kita dengar “Go to hell with your aid”. Kata-kata yang sering diucapkan Presiden Sukarno pada waktu itu.

Sukarno menyampaikan pidato berapi-api di depan Kongres Amerika. Meminta AS lebih memahami persoalan yang terjadi di negara-negara baru merdeka yang ingin bebes dari intervensi asing dan bebas dari dukungan AS kepada negara-negara penjajah yang ingin masuk kembali. Untuk mewujudkan kemerdekaan yang abadi.

Sukarno membangun kebersamaan negara-negara baru berkembang dan Negara-negara baru merdeka yang umumnya berada di Asia dan Afrika untuk melakukan konfrensi Asia-Afrika di Bandung.

Bagi orang-orang CIA konfrensi tersebut adalah simbol permusuhan dengan AS dan penyelenggaraan ini harus digagalkan dengan melakukan berbagai aksi sabotase.”Saya pikir, inilah waktunya kita menyeret kaki Sukarno ke bara api”, Frank Wisner seorang Deputi Direktur Perencanaan CIA pada suatu hari di murim gugur.

Aksi AS untuk menggusur pemimpin revolusi kemerdekaan RI ini dilakukan baik dengan manufer diplomasi Goverment to Goverment sampai kepada skala skandal sex (bahkan ada rencana busuk CIA untuk membuat dan memanipulasi film Sukarno menjadi film porno) yang menjadi sorotan banyak orang. Semua hal ini dilakukan untuk menggagalkan Konfrensi Asia – Afrika yang ditakuti akan dijadikan icon bagi perlawanan kepada kaum-kaum imperialis.

Pada bulan April 1955, KAA akhirnya berhasil diselenggarakan di Bandung yang dihadiri oleh 22 pemimpin negara Asia dan 7 pemimpin negara-negera Afrika. Konfrensi ini dilakukan sebagai perlawanan terhadap Pakta Pertahanan Asia Tenggara (SEATO : The Southeast Asia Treaty Organization ) bentukan AS.

Sebagai pemimpin negara-negara dunia ketiga ia banyak melakukan perjalanan ke Uni Soviet dan China. Tapi juga ia bertamu ke Gedung Putih. Inti pesan Sukarno sederhana saja, negara-negara Asia – Afrika mau dibawa kemana?

Tawaran sangat menarik berdatangan dari mana-mana. Hal ini menyebabkan Indonesia berhasil mengumpulkan senjata dari sana-sini, dari yang modern sampai yang biasa, dari yang dibayar tempo sampai yang hanya hibah (suatu good diplomacy yang tidak pernah lagi ditemukan pada pemimpin-pemimpin Indonesia sekarang ini).

Senjata-senjata tersebut utamanya berasal dari Rusia dan China. Negara blok timur ini sangat agresif untuk menempatkan negara-negara anggota Asia Afrika menjadi bagian dari blok timur.

Sejatinya Sukarno dan pemimpin negara-negara KAA lainnya tidak akan kemana-mana. Anggota KAA merupakan negeri merdeka yang bebas dari blok manapun, tetapi baik blok timur maupun barat terlalu berharap banyak terhadap pengembangan pengaruh mereka di negara-negara ini.

Permainan cantik Sukarno inilah yang membuat Belanda ketar-ketir di ujung timur wilayah Nusantara. Apalagi Sukarno bisa membuktikan bahwa senjata-senjata Rusia dan China dapat memporak porandakan markas-markas Belanda di Papua Barat.

Inilah akhir dari penjajahan barat di Indonesia. Hal yang sangat menaikkan semangat dan martabat bangsa Indonesia yang baru saja merdeka, ternyata mampu memainkan peranan yang menundukkan dua blok besar.

Bukti bahwa kekuatan diplomasi Asia Afrika harus tetap dihidupkan terus, sebagai panggung politik kita di dunia internasional yang telah berkomitmen untuk memainkan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Secara gamblang dapatlah kita katakan tidak ada KAA maka tidak ada politik bebas aktif yang efektif.

Iklan

Penyusunan UU Migas No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Di Bawah Tekanan IMF dan USAID

Kesulitan bangsa kita selama ini adalah ketakberdayaan dalam penerimaan anggaran kita yang semakin seret. Ini terjadi karena minyak dan gas kita dikuasai asing. Selain itu distribusi minyak dan gas kita juga mempersulit masyarakat yang membutuhkannya.

Berbagai kesulitan bangsa ini tanpaknya akan semakin panjang setelah terbitnya UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas yang sangat merugikan rakyat ini terbit.

Kerugikan ini disebabkan oleh adanya mafia perminyakan. Minyak dan gas merupakan sumber paling potensial yang menjadi andalan negara, sehingga tidak perlu mempertahankan regulasi yang menguntungkan mafia perminyakan ini. Mafia perminyakan inilah yang menyebabkan inefisiensi BBM nasional, terutama dalam manajemen impor.

Hal ini disampaikan oleh Kurtubi pada Sidang Panitia Angket yang berlangsung tertutup di Gedung Nusantara II DPR, Rabu (27/8, yang menjadi saksi ahli yang dihadirkan menduga ada intervensi asing dalam penyusunan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bersama pengamat perminyakan Wahyudin Yudiana Ardiwinata.

Berdasarkan situs USAID juga disebutkan bahwa dana yang dialirkan USAID tidak tanggung-tanggung, untuk pembahasan UU Migas dan turunannya, selama kurun waktu 2001-2004, adalah 21,1 juta dollar AS atau sekitar Rp 200 miliar. Bukan hanya itu USAID juga membiayai perbantuan teknis dan pelatihan (technical assistance and training) dalam mengimplementasikan UU Migas, Kelistrikan, dan Energi Geotermal sesuai dengan UU Migas tersebut.

Pengajuan draft RUU Migas yang banyak merugikan bangsa Indonesia ini diajukan oleh USAID bersamaan dengan tekanan IMF agar Indonesia melakukan reformasi regulasi migas. Proses penyusunan RUU Migas tersebut terjadi selama kurun waktu 2001-2004.

Dalam konfrensi pers sesudah sidang itu juga Kurtubi menjelaskan bahwa inefisiensi tata kelola minyak saat ini adalah dampak dari UU Migas No 22/2001. ”Inisiator UU Migas itu dari International Monetary Fund lewat letter of intent. IMF mengharuskan Indonesia mengubah UU Migas-nya. IMF menyodorkan UU Migas. Jadi, pasti ada intervensi asing.” (Tim IV)

Mari Ikut Dalam Gerakan Bersama Sedunia Memotong Mata Rantai Penyebaran Virus Flu Burung Demi Menyelamatkan Jiwa Umat Manusia di Bumi

Oleh Heri Hidayat Makmun

( Silahkan copy paste, translate ke berbagai bahasa dan sebarkan ) 

Tingkat dan metode penularan flu burung semakin menjadi kekhawatiran dunia setelah beberapa kasus ditemukan di Turki dengan tingkat penyebaran yang diduga sangat cepat. Negara-negara Eropa kini berjaga-jaga karena flu burung – yang pertama muncul di Asia Timur – telah mencapai Turki yang dilihat sebagai jembatan yang menghubungkan Asia dan Eropa.

Para ilmuwan khawatir wabah global jenis virus flu burung yang mematikan pada manusia akan melanda sebentar lagi karena wabah semacam ini cenderung terjadi tiga atau empat kali dalam masa satu abad. Flu burung kemungkinan besar akan menjadi pemicunya. Satu kasus saja yang menjadi penyebab penyakit itu – H5N1 – menimbulkan kekhawatiran besar.

Virus ini amat mudah menular dan mematikan pada unggas yang disebarkan lewat unggas. H5N1 sudah menyebabkan puluhan orang meninggal dunia sejak pertama kali muncul di Asia Tenggara pada 2003. Para pakar menduga tidak lama lagi virus itu akan berubah sifat dan mengembangkan kemampuan untuk ditularkan dengan mudah di kalangan manusia.

Penyebaran yang dilakukan dengan media udara, debu, atau sentuhan langsung, sehingga virus ini lebih berbahaya dari pada virus penyebab AIDS atau lainnya jika dilihat dari mekanisme penularannya.

Jenis flu burung baru yang mampu memicu pandemi mematikan dapat bermutasi apabila virus flu burung bergabung dengan virus influenza manusia. Hal ini bisa terjadi apabila seorang manusia tertular kedua jenis flu tadi pada saat yang bersamaan. Dikhawatirkan jenis virus baru itu dapat menyebar dengan mudah dan cepat, menewaskan penderitanya dalam jumlah besar. Orang-orang yang tidak memiliki kekebalan tubuh prima tidak dapat menangkal infeksi tersebut.Penyakit itu bisa membunuh sekitar dua juta orang di seluruh dunia dan banyak lainnya akan tertular. Hal ini didasari dari perkiraan para ahli.

Melihat potensi masa depan yang semakin berbahaya, sangat penting artinya bagi umat manusia untuk terus mendukung usaha-usaha Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari untuk mereformasi organisasi dunia WHO demi menyelamatkan nyawa jutaan umat manusia yang berada di negara miskin, negara-negara dunia ketiga.

Demi hak hidup jutaan nyawa tersebut suara Siti Fadilah Supari harus tetap didengar dan kita harus menjaga agar dia tetap dapat terus berbicara untuk menegakkan keadilan dan akses vaksin dan obat flu burung bagi negara-negara miskin. Semua negara harus mendapatkan akses obat yang murah. Tidak akan bisa memutuskan mata rantai penyebaran virus flu burung jika ada salah satu negara saja gagal dalam menangani penyebaran virus ini.

Bahwa kerawanan dan potensi penyebaran virus flu burung dalam jangka panjang sangat mengkewatirkan oleh karena itu, harus ada upaya-upaya untuk melakukan pencegahan penularan baik dengan proteksi pada peternakan unggas,  satwa liar kebun binatang, maupun satwa liar secara cepat dan sistematis di seluruh dunia, terutama pada negara-negara yang telah jatuh korban kematian akibat virus H5N1 ini seperti China, Indonesia, Thailand, Vietnam, India dan lainnya. 

Kesempatan untuk menyelamatkan generasi manusia hanya ada pada saat-saat sekarang ini, jika virus ini bermutasi lebih cepat dari yang kita perkirakan maka kita akan berada pada kondisi terkejar pandemi yang telah menyebar luas dan maut bagi umat manusia tak dapat dihindari lagi.

Jika memang betul proses penularan sudah sampai pada generasi virus yang bermutasi dengan kemampuan menularkan dari manusia ke manusia, kecepatan penyebaran bukan secara deret hitung (1,2,3, dan seterusnya ), tetapi secara deret ukur yang berlipat-lipat (1,2,4,8, dan seterusnya). Sekali lagi kesempatan kita ada pada saat sekarang ini, jangan lengah mari berkerja bahu membahu memutus mata rantai virus ini diseluruh dunia.

Perlu pengadaan vaksin obat yang dilakukan dengan pengembangan penelitian dari pihak-pihak non komersial, atau gabungan pemerintah negara-negara di seluruh dunia. Melakukan penelitian secara bersama diantara negara-negara di dunia. Berbuat secara tulus dan demi menyelamatkan nyawa jutaan umat manusia dan demi kelangsungan spesies manusia.

Posisi Pemerintah Indonesia dalam masalah ini harus menjadi pemimpin dan pelopor untuk terwujudnya hal tersebut, diharapkan Pemerintah SBY melakukan tindakan-tindakan diplomasi dan menjalin kerjasama dalam kawasan regional ASEAN dan internasional dengan negara-negara lainnya dalam menangani terjadinya pandemik virus avian influenza H5N1.

Pemerintah juga harus terus meyakinkan pihak WHO agar organisasi ini kembali pada khitahnya untuk secaran tulus menyelamatkan jiwa manusia, dan menghentikan kerjasama komersial yang secara ilegal menyerahkan 51 sampel virus flu burung kepada perusahaan tanpa memperhatikan hak para korban dan negara asal dari virus tersebut.

Akses data yang berada di dan berusaha agar WHO dapat menjadi penyedia vaksin media dan terus berupaya untuk terus melakukan penelitian yang lebih transfaran, dan agar data penelitian dapat diakses oleh seluruh peneliti di dunia agar proses penelitian dapat cepat menemukan cara penanggulangan virus ini, dan juga cepat menemukan vaksin yang lebih murah dan mudah untuk diproduksi diseluruh dunia.

Proses penelitian yang terbuka dan transparan ini penting artinya agar menghindari penggunaan sampel virus avian influenza ini dijadikan senjata pemusnah masal yang mengerikan.  Kenapa hal ini penting karena pada kenyataanya akses untuk mendapatkan data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC tidak bisa dilakukan seperti yang pernah dialami The Straits Times Singapura pada tanggal 27 Mei 2006.

Sebagai usaha kita untuk ikut juga memerangi penyebaran flu burung ini mari ikut menyebarkan tulisan ini. Silahkan dicopy paste dan dipostingkan dalam blog atau website Anda, atau dicetak dan dibagikan kepada teman-teman di seluruh dunia agar menjadi gerakan bersama di planet bumi ini untuk memotong mata rantai penyebaran virus H5N1 ini.  Dan bagi yang memahami bahasa-bahasa diseluruh di agar ditranslate dan disebarkan dengan bahasa setempat.

 

 

Hitung-Hitungan Golput Ala Gus Dur Terlalu Omong Kosong

Oleh Heri Hidayat Makmun

Menurut data KPU Pusat dari hasil Pilpres lalu menunjukkan bahwa jumlah suara golput lalu sebesar 22,35 persen dan Pilpres II sebanyak 25,07 persen. Jumlah angka golput ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang dikatakan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang “nyeplos” sebesar 40% untuk Pilpres tahun 2004.

Berdasarkan hasil Pemilu 2004 suara PKB hanya mendapatkan sebesar 11 jutaan pemilih, dengan rincian 10 jutaan dari pemilih Jawa Tengah dan Jawa Timur dan sisanya 1 juta pemilih lainnya dari wilayah Indonesia lainnya.

Gus Dur mengatakan hasil ini adalah sebesar 13% dari seluruh suara (entah bagaimana rumus hitungnya Gus Dur ini?) Kemudian dia menghitung suara golput Pilpres 2004 yang berdasarkan data KPU sebesar 25,07% tetapi dia katakan 40% ditambah dengan pemilih PKB tahun 2004 yang dikatakannya sebesar 13% tadi menjadi 60% (ini juga saya masih bingung bagaimana cara dia menghitungnya). Sehingga hasil 60% pemilih golput ini menghilangkan legitimasi hasil Pilpres 2009.

Dari sini jelas apa yang dikatakan Gus Dur tadi tidak perlu dikwatirkan dan tidak perlu dibesar-besarkan. “Omong Besar Gus Dur” ini tidak akan laku di pasaran pemilih. Seperti tidak lakunya PKB sebagai partai masa depan. Kemungkinan hancurnya suatu partai keluarga yang paling tradisional di Indonesia PKB ini sudah didepan mata.

O iya, Gus Dur juga lupa bahwa suara PKB yang dihitungnya sudah harus dikurangi oleh dua orang Muhaimin Iskandan dan Lukman Edi serta para pengikut setianya. Belum lagi para Kiyai dan Ulama Jawa Timur yang masuk dalam korp Ulama Langitan sudah tidak mendukung Gus Dur lagi. He.. he .. Gus Dur … Gus Dur… Memang pinter ndagel! Mbok ya kalau mau jadi presiden dan bisa jalan-jalan lagi ngomong aja! Ndak perlu ngajak-ngajar golput! Itu kan jelas merusak proses pendewasaan berdemokrasi bangsa ini. Gitu aja kok repot!

Episode Hubungan Indonesia – Malaysia Penuh Kecemburuan dan Prasangka.

 

Sepanjang sejarah perjalanan dua saudara serumpun antara Indonesia dan Malaysia penuh dengan cerita kecemburuan, prasangka dan kemesraan. Sejak Malaysia di jajah Inggris dan Indonesia dijajah Belanda. Malaysia yang lebih bersifat keinggrisan dan kebarat-baratan pada masa lalu, menjadi percikan api yang membakar amarah Sukarno untuk menerbitkan kata yang menjadi cukup terkenal : “Ganyang Malaysia”. Disisi lain pada waktu itu, hubungan luar negeri Indonesia lebih dekat ke China dan Rusia.

 

Awal konfrontasi Malaysia – Indonesia dimulai dengan keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunai, Serawak, dan Britania Borneo Utara (Sabah). Ketiga wilayah ini merupakan jajahan Inggris, dan oleh Inggris digabungkan menjasi Semenanjung Malaya yang menjadi cikal bakal Malaysia. Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Malaysia apabila mayoritas di daerah yang ribut memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi PBB. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, dan tidak menginginkan campur tangan pihak luar.

Sukarno menganggap hal ini merupakan perjanjian yang dilanggar dan sebagai bukti imperialisme Inggris, karena pada kenyataanya ada sebagian wilayah yang menginginkan masuk ke Republik Indonesia. Wilayah ini berada diperbatasan Kalimantan Indonesia – Kalimantar Utara (Sabah) dan Brunai. Pemimpin masyarakat tersebut memberontak terhadap pemerintahan Brunai dan membentuk Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Sultan Brunai meminta pertolongan kepada Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) yang berpusat di Singapura. Akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh tentara Inggris.

Di Kuala Lumpur pada waktu itu terjadi demontrasi yang anti Indonesia, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto-foto Sukarno dan Lambang Garuda, yang dibawa ke hadapan Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman. Emosi Sukarno meledak dan melancarkan gerakan yang terkenal dengan Indonesia dan presiden Indonesia.Atas usulan dan rekomendasi Inggris, Malaysia menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB. Hal ini memicu cemburu Sukarno yang keluar dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965. Kemudian membentuk suatu organisasi pengganti PBB yang diberinama Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo). Mengganti Olimpiade dengan Games of the New Emerging Forces (GANEFO).

Malaysia yang merasa siap berhadapan langsung dengan Indonesia, melibatkan Inggris, Selandia baru dan Australia dalam konfontasi dengan Indonesia. Australia menerjunkan pasukan 3 resimen tentara Special Air Services (SAS). Sementara Indonesia mendapatkan pasokan sejata dan obat-obatan dari China. Saat-saat inilah hubungan Jakarta – Beijing semakin kuat. Demikian juga usaha Sukarno untuk mendekati Rusia. Masa rejim Sukarno merupakan masa perkembangan komunis yang subur, sedangkan Malaysia yang masih dijajah Inggis merupakan benteng kaum liberal untuk menghadang perkembangan komunis.

Di lain waktu ketika Sukarno terjatuh dari kekuasaannya akibat “Supersemar” paska pemberontakan G30S PKI yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Masa awal Rejim Suharto merupakan masa yang sangat tragis bagi Partai PKI, yang anggotanya banyak dibunuh dan diasingkan diberbagai pulau di Indonesia. Gerakan dan Isme yang diusung Suharto menarik barat yang liberal untuk ikut membackup dari belakang. Mudah untuk dibuktikan bahwa gerakan-gerakan mahasiswa tahun 60-an banyak disusupi oleh LSM barat yang menjadi donatur mahasiswa langsung atau maupun tidak langsung.

Pada tanggal 28 Mei 1966 diadakan konferensi di Bangkok Thaliland. Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Perjanjian ini merupakan awal dari efisode baru hubungan Indonesia dan Malaysia yang lebih harmonis. Tentara di tarik mundur dari perbatasan dan kekerasan berakhir. Tanggal 11 Agustus 1966 dilakukan perjanjian perdamaian antara Indonesia dan Malaysia.

Pada masa-masa Suharto ini hubungan Indonesia menjadi seiring dan sejalan. Bahkan pada pertengahan rejim Suharto berkuasa banyak para pelajar, petani, guru Malaysia yang belajar di Indonesia. Bahkan Malaysia menganggap Indonesia adalah kakak kandung Malaysia, terutama pada masa Perdana Menteri Mahatir Muhammad berkuasa. Apalagi ketika Singapura yang menjadi “orang ketiga” dalam hubungan Indonesia Malaysia juga ikut menganggap Indonesia sebagai saudara tua. Pertumbuhan Indonesia yang cepat di bawah program pembangunan yang diusung Suharto menjadikan Indonesia di kagumi dan disegani bukan hanya di Asia Tenggara tetapi juga di Asia bahkan dalam hubungan-hubungan regional maupun inter regional, Indonesia banyak menjadi mediator yang bijaksana. Kesan ini cukup mempengaruhi hubungan Indonensia Malaysia yang stabil dalam kemesraan.

Paska kejatuhan rejim Orde Baru yang dianggap korup dan mencederai hak asasi manusia, yang dimotori juga oleh mahasiswa dengan mengusung revormasi menuju Indonesia baru. Pada masa itu kejatuhan Suharto akibat krisis moneter yang berkepanjangan dan pada akhirnya menjadi krisis multidimensi bagi Indonesia. Suharto berusaha tetap mencengkramkan kekuasaan dalam goyah kekuasannya, melalui perpanjangan rejim orde baru berupa pengangkatan Habibie menjadi pengganti Suharto. Pada masa Habibie hubungan Malaysia dan Indonesai masih tetap baik dan tetap bertekad memajukan ASEAN sebagai isu utama penguatan ekonomi negara-negara Asia Tenggara yang ketika itu juga ikut terpuruk. Peran Indonesia dalam berbagai hubungan di regional Asia Tenggara dan Asia masih tetap menonjol dan meneruskan kebijakan-kebijakan masa Suharto.

Ketika Abdurrahman Wahid berkuasa yang didapat dari hasil pemilu. Hubungan Indonesia Malaysia mulai gamang. Kekuatan diplomasi Indonesia baik di dalam ASEAN maupun Asia semakin menurun dan terpuruk. Dalam masa-masa inilah Malaysia sudah mulai merasa kakak tertuanya ini adalah saudara yang merugikan adiknya. Di picu oleh tenaga kerja Indonesia yang masuk secara ilegal dan kebijakan Gus Dur yang mulai berkedip mata dengan Israel yang pada masa-masa Suharto dan Habibi adalah “daerah hubungan yang terlarang”. Malaysia yang masih dipimpin PM Mahatir Muhammad merasa saudaranya ini sudah mulai salah jalan. Walaupun Gus Dur banyak melakukan “jalan-jalan keluar negeri” tetapi pada masa inilah peran Indonesia dimata ASEAN, Asia dan Internasional mulai menurun dengan drastis. Apalagi Singapura yang selalu menjadi prokaktor dalam hubungan Malaysia dan Indonesia mulai meremehkan peran Indonesia di ASEAN. Bagi Lie KuanYou, Indonesia hanya ada pada masa Suharto, justififkasi yang subjektif ini sangat kentara dalam kebijakan-kebijakan Singapura ke Indonesia dan pengaruhnya terhadap hubungan Indonesia – Malaysia.

Masa setelah Gus Dur di jatuhkan legislatif yang tidak semakin percaya dengan kepeminpinan Abdurrahman Wahid. Pada masa ini keterpurukan ekonomi belum juga dapat terangkat. Ketergantungan kepada IMF, Bank Dunia dan bantuan luar negeri. Arah revormasi yang semakin tidak jelas memutuskan kekuasaan Gus Dur ditengah jalan. Inilah saat kenaikan Megawati menjadi presiden pengganti Gus Dur. Penggantian ini tidak memberi pengaruh yang positif dalam kekuatan diplomasi Indonesia di luar negeri dan dalam kaitannya hubungan Malaysia dan Indonesia masih tetap gamang. Dilain sisi isu Sipadan dan Ligitan sudah menjadi isu utama yang semakin menjauhkan dua bersaudara ini, ditambah lagi dengan kemampuan diplomasi Megawati diluar negeri yang lemah dan tidak memiliki arah. Sementara Malaysia terus menggalang kekuatan untuk menguatkan isu Sipadan Ligitan adalah dalam wilayah Malaysia baik di arbitrase-arbitrase internasional, diplomasi ke PBB, pendekatan ke Amerika Serikat dan berbagai intrik Malaysia yang dilakukan terhadap pulau tersebut. Semakin mencengkramkan kuku Malaysia di pulau tersebut. Bahkan penduduk-penduduk pribumi di pulau tersebut banyak yang dipekerjakan dan disekolahkan oleh pemerintah Malaysia. Dalam kondisi seperti itu Megawati tetap tenang dan tidak berbuat apa-apa, kecuali hanya reaksi-reaksi yang tidak profesional sebagai presiden untuk mengamankan wilayah RI. Disinilah visi dan misi PDI Perjuangan yang menopang Megawati yang bertekad sebagai garda NKRI hanyalah isapan jempol belaka.

Paska pemilu demokratis dengan pemilihan langsung calon presiden RI yang pertama kali, dengan hasilnya memunculkan Susilo Bambang Yudoyono sebagai Presiden RI. Hubungan Malaysia dan Indonesia semakin parah isu Ambalat muncul sebagai pemicu hubungan Indonesia dan Malaysia yang semakin sulit. Tenaga Kerja Indonesia ilegal yang masuk Malaysia semakin banyak, berbagai perlakuan kasar warga Malaysia terhadap TKI, menyebabkan demo di dalam negeri Indonesia. Penerapan pemerintah Malaysia yang mulai garang terhadap TKI ilegal dan tidak adanya komunikasi yang efektif untuk menangani berbagai kekerasan terhadap TKI Indonesia semakin meretakkan hubungan tersebut. Dalam jangka panjang Malaysia bertekad mulai mengurani ketergantungannya dengan TKI Indonesia. Kebijakan ini dilakukan secara bertahap sampai Malaysia dapat secara mandiri menyediakan supplay tenaga kerja dari dalam negerinya sendiri. Bagi Malaysia hubungan ini semakin merugikan. Apalagi peran Indonesia di ASEAN dan Asia tidak juga menjadi lebih baik.Dalam kontek hubungan Indonesia – Malaysia ada pengaruh signifikan kekuatan ekonomi, diplomasi dan peran Indonesia di regional maupun inter regional terhadap perbaikan hubungan Indonesia – Malaysia. Tentunya perlu juga ada saling pengertian dan upaya-upaya pengaruh asing “Singapura” untuk merusak dua saudara serumpun ini. Bagi Indonesia dan Malaysia seakan-akan Singapura merupakan duri dalam daging. Dilain sisi-sisi Singapura juga punya dendam tersendiri sejak ditolak masuk menjadi Federasi Negara-Negara Bagian Malaysia. Konflik-konflik regional ini menjadi tantangan bagi ASEAN kembali berperan secara efektif seperti masa-masa awal berdirinya ASEAN.

Bangkit Versi Dedy Mizwar Dalam Rangka 100 Tahun Kebangkitan Nasional

Bangkit

Bangkit itu adalah ….

Susah! Susah melihat orang susah…

Bangkit itu adalah

Malu! Malu jika kita meminta melulu

Bangkit itu adalah …

Mencuri! Mencuri perhatian dunia dengan prestasi!

Bangkit itu adalah …

Marah! Marah jika martabat bangsa dilecehkan!

Bangkit itu adalah …

Tiada! Tiada kata menyerah!

Bangkit itu adalah …

Aku! Aku untuk bangsaku.

Harga Gas Dunia Naik Mengikuti Harga Minyak

Indonesian merupakan penghasil gas terbesar didunia, bahkan ada ahli yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidur di atas gas bumi dan panas bumi. Dalam kelangkaan sumber-sumber energi dunia saat ini, baik berupa kenaikan harga minyak dunia, gas alam, batu bara, panas bumi dan sumber-sumber lainnya yang secara umum mengalami kenaikan yang luar biasa.

Kenaikan harga gas dunia yang melonjak tersebut tidak terasa atau mungkin belum berkah bagi rakyat Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tata kelola bahan mineral Indonesia masih carut marut. Dari mulai penetapan perusahaan pengelola yang sebagian besar perusahaan asing, kontrak kerja yang tidak adil dan cendrung merugikan RI, penetapan harga gas yang tidak sesuai dengan harga gas dunia, kebijakan ekpor gas yang berlebihan, dan UU Migas yang merugikan Indonesia.

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPPT ternyata produksi gas dalam negeri lebih banyak dijual ke pasar internasional melalui mekanisme ekspor. Data yang dihimpun BPPT menyebutkan ekspor gas yang dikemas dalam bentuk LNG menyita hampir seluruh produksi gas dalam negeri.

Hasil produksi gas perusahaan-perusahaan gas seperti PT Arun (Aceh) dan PT Badak (Bontang). Pada 2000 lalu produksi Arun mencapai 6.706.100 metrik ton, jumlah yang diekspor mencapai 6.747.000 metrik ton. Ladang gas Badak, berproduksi mencapai 20.614.900 metrik ton pada tahun 2000. Sebagian besar produksi dialokasikan untuk kepentingan ekspor, mencapai 20.243.100 metrik ton, rata-rata produksi pada tahun-tahun berikutnya tetap bertahan sampai tahun 2008 ini. Setidaknya data 2002 menyebutkan ekspor mencapai 6.249.700 metrik ton dari total produksi ladang gas Arun yang mencapai 6.242.600 metrik ton. Sedangdkan ladang gas Badak berproduksi hingga kisaran 19.942.200 metrik ton, namun kapasitas ekspornya melampaui produksi mencapai 19.964.800 metrik ton.

Ekspor gas Indonesia berdasarkan jenis pada 2002, berupa LNG sebesar 1.656.472 MSCF (66,12%), LPG 2.474 MSCF(0,10%), pipanisasi ke Singapura 82.619 MSCF (3,30%) dan sisanya untuk kebutuhan dalam negeri. Nilai ekspor LNG pada 2002 mencapai US$5,595 miliar, kontrak ekspor LNG Indonesia periode 1999-2007 mencapai 29,46 miliar metrik ton, realisasi ekspor hingga kini 3,51 metrik ton. Data 2002 menyebutkan, 69% produksi gas Indonesia diekspor ke luar negeri dalam bentuk LNG, LPG dan distribusi gas melalui pipa (ke Singapura).

Tentunya pada tahun 2008 ini harga gas meningkat sangat pesat. Harga gas naik mencapai US$ 3,227 per galon. Harga gas diperkirakan bisa mencapai US$ 4 per galon dipicu kenaikan harga minyak mentah di pasar bursa berjangka. Harga gas rata-rata di New York naik 0,7 persen menjadi US$ 3,22 per galon atau US$ 69 sen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu, harga gas sempat menyentuh US$ 3,227 karena permintaan yang tinggi. Harga gas eceran mengikuti minyak mentah naik 25 persen dalam waktu sebulan,

Berita kenaikan harga gas yang tinggi ini tertutupi oleh kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah jarang, bahkan terkesan menutup-nutupi kenaikan harga gas dunia ini. Hal ini mengesankan agar kenaikan harga BBM dalam negeri dapat berjalan lancar tanpa banyak protes dari masyarakat