Kerjasama Keamanan Indonesia, Thailand dan Malaysia Tak Perlu Campur Tangan Amerika

Isu keamanan menjadi isu penting di Asean. Ketergantungan kawasan ini dalam masalah-masalah terorisme dan keamanan pada umumnya terhadap Amerika, membentuk pemerintahan yang gampang untuk didikte asing.

Baru-baru ini mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, mengatakan dukungannya mengenai kerja sama antara pimpinan negara Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam bidang pertahanan dan keamanan.  Kerjasama ini untuk menangani keamanan regional.  Anwar berharap  kerja sama tersebut jangan membuat Susilo Bambang Yudhoyono, Thaksin, dan Abdullah Badawi dikendalikan oleh Amerika atau pihak asing. “Kita harus melihat masalah terorisme sesuai dengan kacamata kita,” ungkapnya.

Anwar memberi contoh: apabila ada seseorang yang terbukti bersalah karena mempunyai senjata beracun, maka orang tersebut harus diberi tindakan yang tegas sesuai dengan hukum melalui pengadilan.  Kasus-kasus yang ditanggani masih berdasarkan titipan asing dan dijadikan isu terorisme. Hal inilah yang menyebabkan akar dari keamanan di Asia Tenggara seperti ancaman di Selat Malaka dan mapia obat terlarang dapat diatasi.

Selama ini baik pemerintah Indonesia, Malaysia dan Thailand menggantungkan program keamanan yang telah diseting oleh Amerika. Pembentukan Densus 88 di Indonesia contohnya hanya berfungsi untuk kasus-kasus yang berkaitan dengan kepentingan Amerika. Disisi lain ketangguhan pasukan tersebut tidak dapat digunakan untuk memerangi pencurian ikan yang banyak diterjadi di Indonesia contohnya, atau ilegal logging yang merugikan Indonesia.

Iklan

Gorbachev Mengkritik Negara-Negara Eropa

Pemimpin Uni Soviet terakhir, Michael Gorbachev, mengkritik sikap negara-negara Eropa soal kemerdekaan Kozovo. Menurut Kantor Berita IRNA, Gorbachev dalam artikelnya yang dimuat Koran Rusia, Rossiyskaya Gazeta, mengatakan, “Menciptakan fenomena berbahaya yang berkaitan dengan undang-undang dan keamanan internasional bisa menjadi peristiwa yang dapat memicu gejolak di sejumlah wilayah.”

Lebih lanjut Gorbachev menyesalkan upaya Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang mengambil alih peran PBB dalam menangani masalah Kozovo. Dikatakannya, “Menurut pandangan diplomatik dan etika, langkah ini sama sekali tak dapat dibenarkan.” Sejak tahun 1999, Provinsi Serbia selatan, Kozovo, berada di bawah administrasi PBB untuk mengantisipasi penumpasan warga minoritas Albania oleh pemerintah Belgrad. Menurut rencana, Kozovo akan mendeklarasikan kemerdekaan dari Serbia secara sepihak pada awal tahun 2008. ( Sumber : Warta Berita )

Rahasia Sukses Perdagangan China di Dunia

Apakah China sedang berupaya untuk menjadi negara adidaya secara ekonomi? Jawabannya adalah ya. Inilah kajian menarik karena kekuatan dunia pada beberapa waktu ini di kuasai oleh Amerika, Jepang, Prancis, dan Inggris. Sterling Seagraves seorang analis barat mengatakan Cina akan menjadi pemilik abad 21 dan menjadi raksasa kekuatan ekonomi dunia. Pada tahun 2010 nanti, nilai nominal ekonomi Cina setidaknya mencapai AS $ 9.9 trilyun. Angka ini merupakan angka tertinggi didunia yang akan berada di atas Jepang dan AS. Ternyata Premis Seagraves itu terbukti. Belum sampai 2010, Cina telah menjadi raksasa ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi negeri itu rata-rata selalu tinggi 8 – 10 persen selama dua dekade belakangan. Hebatnya lagi sementara sejumlah negara di wilayah ASEAN yang pertengahan 1990-an kala itu santer disebut sebagai “Macan Baru Ekonomi Asia” justru tumbang setelah munculnya krisis ekonomi Asia tahun 1997, Cina justru sanggup terus melaju kencang.

Apakah ekonomi China sangat tertutup? Justru mereka sangat terbuka dan merekalah yang akan datang pada semua titik jaringan perdagangan yang akan dapat digunakan sebagai basis kekuatan ekonomi China. Walaupun China beridelogi komunis tetapi prinsif dagang China sangat terintegrasi dengan dunia global.  China tidak dapat disamakan dengan Rusia.  Sekalipun mengalami isolasi paska Tianmen tahun 1989 yang tragis, tetapi strategi cerdik China secara politik tetap dapat menerima dukungan ekonomi secara internasional. 

Sebenarnya apa rahasia China untuk menjadi adidaya ekonomi? Keberhasilan Cina itu tidak lepas dari peran keturunan Cina (baca: Cina Perantauan) yang menyebar di seluruh dunia. Menurut kajian Sterling, yang dituangkan dalam bukunya ‘Lords of the Rims’, pada tahun 1990 ada 55 juta orang Cina Perantauan atau “China Overseas”. Mereka umumnya berasal dari Cina Selatan (pesisir). Jumlah mereka ini hanya 4 persen dari total bangsa Cina Daratan 1,2 milyar. Namun jika seluruh kekuatan ekonominya digabung dengan lintas batas-batas negara, maka seluruh nilai kekayaan Cina Perantauan berjumlah AS $ 450 milyar. Angka ini adalah 35 persen lebih besar dari jumlah GNP negeri Cina tahun 1990!

Siapa para tokoh networking perdagangan China? Para taipan diseluruh negara yang menjadi pengusaha konglomerat di berbagai negara di dunia. Mereka adalah kunci dan pintu dari pembukaan isolasi yang dilakukan oleh masyarakat internasional. Para taipan bisnis Cina Perantauan berandil besar membentuk semacam kongsi bisnis yang melewati batas-batas negara namun saling menjalin usaha bisnis yang saling menyokong antar sesamanya. Jalinan sistem finansial kaum Cina Perantauan ini terbentang di pusat-pusat keuangan dunia di seputar wilayah Samudera Pasifik mulai dari Vancouver Canada, Los Angeles USA, Hong Kong, Taipei, Singapore sampai dengan negara ASEAN termasuk Indonesia.

Sederetan nama tersohor di antara pebisnis kaya raya seperti Li Ka Shing di Hongkong dan Lim Soei Liong di Indonesia sempat pernah menjadi peringkat atas orang terkaya tidak hanya di Asia Pasifik namun di dunia pada dekade 1990-an. Dan sejak tahun 1990-an saat rezim Pemerintah Cina mengendorkan kekakuan ideologi sosialisme-komunis serta membuka diri terhadap ideologi kapitalisme, maka maraklah kaum pebisnis Cina Perantauan kaya raya yang telah sukses di luar negeri ramai-ramai pulang kembali ke negeri leluhurnya untuk berbisnis sekalian menjalankan tradisi warisan budaya memuliakan kampung halaman.

Kehadiran jaringan Cina Perantauan ini sudah terjadi sejak berabad-abad lamanya. Mereka dulunya adalah suku-suku di pesisir selatan. Tirani pemerintah komunis terhadap mereka mengharuskan mereka mencari jalan lain ke luar negaranya. Maka tak mengherankan mereka amat lihai dalam permainan di bawah tanah. Keahlian itu terus berlanjut turun temurun di berbagai belahan dunia.

Ikatan antar Cina Perantauan sempat dilegalkan oleh oleh mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. Pada Agustus 1991 ia mengadakan Konvensi Cina Sedunia di Singapura untuk mengumpulkan pengusaha-pengusaha Cina Perantauan dari seluruh dunia. Konvensi ini dihadiri 800 pengusaha besar Cina yang datang dari 30 negara termasuk dari Indonesia. Konvensi ini bertujuan untuk “membentuk jaringan kerja sama ekonomi masyarakat bisnis internasional Cina untuk memanfaatkan berbagai peluang bisnis”.

Pertemuan ini mampu membangkitkan premordialisme para pengusaha Cina bahwa keberhasilan mereka dalam bidang ekonomi tidak lepas dari kesamaan mereka yang mewarisi tradisi budaya super yaitu Cina. Ini kemudian dikaitkan dengan sifat-sifat tradisi budaya itu untuk bersikap hemat, kerja keras, mengutamakan pendidikan, persatuan dan saling membantu, bahkan ditekankan kembali Confucianisme sebagai etos pengikat orang-orang Cina.

Konvensi ini kemudian disusul dengan konvensi serupa yang diadakan di Hongkong pada bulan November 1993 yang dihadiri 1000 pengusaha besar Cina dari seluruh dunia. Indonesia diwakili 40 konglomerat non-keturunan Cina. Jauh sebelum itu, pemerintah Cina pada tahun 1949 mendirikan Departemen Komisi Tionghoa Perantauan dan memberikan 30 kursi di Kongres Rakyat Cina untuk wakil-wakil Tionghoa Perantauan termasuk wakil-wakil dari Indonesia. Tujuan

Departemen ini adalah untuk (1) melindungi kepentingan orang-orang Cina di perantauan, (2) memperkuat ikatan antara orang Cina diperantauan dan dengan tanah leluhur, dan (3) menganjurkan orang Cina mengirimkan uangnya ke Cina.

Terbentuknya jaringan kerja sama yang berbau rasialis ini menggoncang nasionalisme pribumi di negara-negaraASEAN, termasuk Indonesia yang saat itu sedang berusaha keras untuk mempersatukan non-pri dan pribumi. Selain itu ada ketakutan akan larinya modal Indonesia ke luar negeri (capital flight) yang berarti merusak ekonomi dalam negeri.

Apalagi, sudah lama pemerintah RRC sendiri menganjurkan pengusaha-pengusaha Cina Perantauan untuk menanamkan modal mereka secara besar-besaran ke RRC. “Tanpa orang-orang keturunan Cina ini, sulit bagi RRC untuk bisa mewujudkan suatu pertumbuhan ekonomi yang begitu

 

tinggi. Para pengamat memperkirakan bahwa 60 persen investasi asing di daratan Cina ini dibawa oleh para pengusaha keturunan Cina. Tanpa orang-orang keturunan Cina seperti Mochtar Riady atau Soedono Salim dari Indonesia. Robert Kuok dari Malaysia atau Charoen Pokphan dari Thailand, tidak banyak modal yang akan masuk ke daratan Cina untuk investasi.” (Jhon K Naveront, Jaringan Masyarakat China).

Penguasaan Negara Cina Perantauan menancapkan tajinya yang luar biasa di bidang ekonomi. I Wibowo (2004), secara menyatakan dihampir semua negara-negara ASEAN, pengusaha Tionghoa Perantauan menguasai 70 persen kue ekonomi. Mereka juga mengembangkan bisnisnya di pasar global. Apalagi, mereka memiliki apa yang disebut sebagai multinational corporations Tionghoa (MNCs). Diversifikasi usaha MNCs Tionghoa ini sudah sedemikian jauh, mencakup sektor industri semen, penerbangan, terigu, pulp, ekspor-impor, perbankan dan keuangan, agribisnis, pertambangan, kehutanan, manufaktur dan kelautan. Dari merekalah tumbuh MNCs yang sanggup menandingi MNCs Barat di Asia Tenggara.

Sejalan dengan tradisi, perusahaan-perusahaan bernilai milyaran diturunkan dari bapak ke anak seperti layaknya warung kelontong. Mereka, kata Seagraves, dijalankan oleh para kepala sindikat perdagangan Cina yang rahasia dan superkaya. Mereka inilah yang secara riil menguasai perekonomian di Asia Pasifik, kecuali Jepang dan dua Korea.

Sampai-sampai Cina Perantauan merupakan salah satu sumur terbesar modal cair dunia. Seorang bankir Singapura menaksir aset cair mereka sebesar US $ 2 trilyun, belum termasuk sekuritas. Kesuksesan itu tidak lepas dari kelihaian bisnis, cakap berorganisasi, dan cerdik memanfaatkan perlindungan politik (patronase), serta mendapatkan konsesi-konsesi monopoli dari pemerintahan-pemerintahan yang sulit. Karenanya sulit bagi mereka mencapai kesuksesan itu tanpa ketrampilan istimewa dalam urusan suap menyuap dan patronase.

Begitu berkuasanya mereka di berbagai negara, khususnya kawasan Pasifik, hingga kekuasaannya ibarat jaring labalaba  yang membentang di kawasan itu. Sampai-sampai investor Barat dan Jepang pun tak mampu masuk ke kawasan ini tanpa campur tangan mereka. Didukung oleh semangat solidaritas yang kuat, jaringan-jaringan bawah tanah, pragmatisme politik, informasi yang hebat, dan kemampuan menyesuaikan diri, cengkeraman mereka di kawasan Pasifik tak ada yang bisa menandingi. Seagraves bahkan berani mengatakan jika mereka bersatu maka pengaruh mereka akan meningkat tiada tara. Kekuatannya bisa menguasai perdagangan dunia.

 

Prancis di Mata Rakyat China

Prancis biasanya menduduki peringkat kedua setelah tanah air mereka sebagai negara yang paling dicintai rakyat Tiongkok. Tetapi hal ini telah berubah secara drastis, menurut sebuah survei yang diluncurkan kemarin.

Jajak pendapat oleh Kelompok Konsultansi Horizon, sebuah perusahaan survei, menunjukkan bahwa hampir 60 persen responden “mencatat kebencian yang semakin besar terhadap Prancis”.

Jajak pendapat telepon yang dilakukan oleh Horizon antara 18 April dan 20 April mencakup 905 warga yang berusia 16 ? 65 di Beijing, Shanghai, dan Guangzhou. Para responden mengatakan bahwa sikap Prancis terhadap Olimpiade Beijing telah dengan parah menodai kesan mereka terhadap negara tersebut.

Survei ini juga mengidentifikasikan bahwa Kanada, Inggris, dan Jerman juga turun dalam rating. 64,8%, 57,2% dan 58,1& mengatakan mereka punya perasaan negative terhadap negara-negara tersebut.

Survei ini amat kontras dengan studi tahunan Horizon yang berjudul “Dunia di mata Tiongkok” pada tahun 2003, di mana Prancis merupakan negara kedua yang paling disukai. Tahun berikutnya, Prancis menduduki peringkat keempat.

Hasil jajak pendapat dengan jelas menunjukkan sentimen di antara warga Tiongkok terhadap Prancis setelah serangkaian sikap yang tidak bersahabat, termasuk gangguan pada estafet obor Olimpiade di Paris tanggal 7 April.

“Saya marah pada ketimpangan Prancis dalam menilai isu hak asasi manusia Tiongkok,” kata Duan Chen, seorang warga berusia 25 tahun yang bekerja di firma hukum. “Mereka main hakim sendiri.”

“Saya dulu sering membeli produk-produk Prancis yang melambangkan gaya dan keanggunan, tetapi kata-kata munafik mereka melawan Tiongkok sekarang amat mengganggu pikiran saya,” kata Duan.

Tetapi Yang Chenjiu, seorang insinyur yang pacarnya belajar di Paris menghimbau suatu cara yang lebih kalem dan rasional untuk berhadapan dengan Prancis, meskipun tetap khawatir atas pengaruh buruk hal ini dalam hubungan Tiongkok ? Prancis.

“Saya mendorong pacar saya untuk mengatakan pada rekan-rekan kuliahnya di Prancis tentang Tiongkok yang sesungguhnya,” kata Yang. “Bagaimana Anda bisa mengharapkan masyarakat Prancis untuk memiliki sikap yang obyektif tentang Tiongkok bila sebagian besar dari mereka tidak punya kesempatan untuk mendengar suara Tiongkok?”

Survei ini menolak klaim Barat bahwa Tiongkok hanya memiliki sebuah sumber berita. Ketika isunya adalah estafet obor Olimpiade atau Tibet, 76,9% responden mengatakan bahwa mereka mencatat perbedaan antara media Barat dan domestik.

Sekitar 86 persen mengatakan bahwa mereka cenderung percaya pada laporan media domestik. Mereka yang percaya pada media Barat hanya sekitar 2 persen.

Mayoritas responden, atau 82,5%, menentang pengaitan Olimpiade dengan Tibet atau hak asasi manusia.

Sekitar 75% sadar akan himbauan boykot dan protes yang diadakan di luar negeri. Dari mereka semua, 90% “menentang” dan 77 persen “sangat menentang” aktivitas-aktivitas ini.

Separuh dari para responden mengatakan bahwa apa yang dikatakan dan dibuat oleh Dalai Lama baru-baru ini memperdalam kebencian terhadapnya.

Mengenai tanggapan terhadap estafet obor Olimpiade, 60 persen dari mereka memilih “mengumpulkan suara online dan tanda tangan untuk mendukung Olimpiade” sedangkan 51 persen “menggerakkan yang lainnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Olimpiade,” sedangkan 39% memboykot produk-produk asing seperti produk buatan Prancis. 34% menyuarakan pendapat dalam blog dan BBS, 21% ikut serta dalam protes spontan di tempat-tempat public, sementara 10 persen melakukan hal-hal lain. 12 persen tidak melakukan kegiatan konkret, serta 5 persen menolak untuk menjawab atau tidak yakin.

Para responden diperbolehkan untuk memilih lebih dari satu jawaban untuk semua pertanyaan.

Menurut survey, antusiasme rakyat Tiongkok untuk Olimpiade tidak tergoyahkan oleh event-event yang baru terjadi ini.

(Sumber: China Daily)

Bijaksanakah Memboikot Olimpiade Beijing China?

Oleh : Heri Hidayat Makmun, SE, MM

Salah satu semangat dalam dunia olah raga adalah sportifitas, kebersamaan, keakrapan dan sebagainya yang tentunya berasal dari berbagai latar belakang negara, politik, agama, ras dan sebagainya. Jika pengaruh politik, ras atau lainnya dimasukkan dalam arena olah raga maka tujuan dan semangat olimpiade yang selama ini ada akan hilang.

Isu untuk melakukan boykot terhadap olimpiade yang akan diselenggarakan di China berlatar belakang protes masyarakat Tibet yang menyebabkan reaksi dari pemerintah China. Umumnya protes awalnya dilakukan diberbagai tempat di luar Tibet dan China. Tindakan represif dari pemerintah China banyak memicu reaksi dari berbagai negara. Salah satu reaksi yang paling sensitif adalah memboykot olimpiade China.

Reaksi tersebut dapat dilihat dari berbagai Pawai Obor Olimpiade yang melintasi berbagai negara. Berbagai LSM dunia yang dikendalikan oleh kepentingan politik untuk menjatuhkan China bergotong royong melakukan blokade, demontrasi, menteror, bahkan sampai merebut api obor yang sedang diarak. Usaha-usaha ini banyak mengalami kegagalan, dengan kenyataanya arak-arakan obor olimpiade tetap berjalan.

Berbagai negara yang dilewati obor olimpiade ini banyak melakukan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada saat arak-arakan. Seperti kekwatiran Pemerintah Malaysia terhadap berbagai gangguan yang akan dilakukan oleh demontran dalam usaha untuk melakukan blokade terhadap berjalannya pawai obor. Demikian juga yang dilakukan oleh Pemerintah Pakistan yang menerjunkan ribuan polisi dan tentara dalam pawai obor yang dilakukan di Islamabad. Gangguan seperti yang telah terjadi di London, Paris, San Fransisko menjadi pelajaran untuk mengantisipasi berbagai teror yang akan dilakukan demontran. Di San Fransisco para demontran yang membawa foto-foto Dalai Lama melakukan aksi demontrasi di Konsulat China. Di Asia arak-arakan dimulai di India, Thailand, Malaysia, Indonesia, Australia, Korea Selatan, Jepang, Vietnam sebelum akhirnya menuju Beijing China. Berbagai negara yang akan dilalui tersebut merasa khawatir terhadap kemungkinan keamanan dari para peserta pawai obor ini.

Pada umunya demontran bukanlah para penduduk dikota-kota tersebut tetapi merupakan seorang yang berpura-pura sebagai turis yang memang datang untuk melakukan aksi-aksi sporadis yang sistematis dari suatu organisasi yang terpimpin. Gerakan terorganisir yang sistematis ini berpusat di Paris Prancis. Mereka mengatasnamakan suatu dari warga dunia tetapi sebenarnya hanya mewakili dari visi organisasinya. Organisasi yang tertutup ini memiliki berbagai cabang di penjuru dunia. Tujuannya bukanlah untuk memerdekakan Tibet sebagai bagian dari wilayah China, tetapi usaha untuk menjegal China sebagai naga yang baru akan bangun. Usaha-usaha ini dijalankan akibat ketakutan atas berkembangnya kembali semangat komunis.

Bagaimanapun kembali kepada semangat Olimpiade itu sendiri bahwa olimpiade bertujuan untuk menjembatani berbagai perbedaan. Baik itu ras, agama, isme, politik, warna kulit, suku atau apa saja yang membedakan manusia di bumi ini. Layakkah teror ini terus dilakukan?…

KRITIK TERHADAP STRATEGI JANGKA PANJANG RI

Siapa Kompetitor Kita?…

Siapa negara kompetitor kita? Tidak semua rakyat Indonesia cepat dapat menjawabnya.
Mungkin ada yang menjawab Malaysia, ada juga yang mungkin menjawab Singapura.
Tapi tunggu dulu seberapa jauh kita selalu melihat kemajuan negara tetangga kita
tersebut, dan apakah hasilnya penglihatan kita tersebut selalu kita bandingkan dengan
negara kita? Jawaban saya tidak, entah mungkin Anda. Kita sebaiknya jujur saja.

Apakah kita terburu-buru membangun mengejar ketertinggalan kita?
Apakah kita merasa cemburu atas kemajuan mereka?
Apakah kita khwatir atas kemajuan mereka?

Apakah hasil pembangunan kita selalu diukur dengan hasil pembangunan mereka?

Coba kita lihat negara-negara lain yang memiliki kompetitor yang jelas, dan mereka
memang benar-benar berlomba pada semua bidang kemajuan. Utamanya ekonomi, militer,
ilmu pengetahuan dan teknologi.

Amerika selalu berkompetisi dengan Jepang, Rusia dan China.
Pakistan berkompetisi dengan India.
Prancis selalu berkompetisi dengan Inggris.
Malasia berkompetisi dengan Singapura.

Dulu sebelum Irak dihujani bom oleh AS. Irak berlomba dengan Iran.
Uni Emirat Arab ‘juragan minyak dunia ini’ berkompetisi dengan Arab Saudi terutama masalah investasi
mereka di negara-negara Eropa dan Amerika.
Jerman berkompetisi dengan Amerika dalam masalah teknologi pesawat.
China berkompetisi dengan Malaysia dalam memproduksi prosesor AMD.
Mexico berkompetisi dengan Venejuala dalam ekpansi ladang minyak di Amerika Selatan.
Kekuatan militer Rusia bersaing dengan kekuatan militer Amerika.
Satelit China ditembak peluru kendali Amerika karena mengganggu satelit Amerika.

Agen Mosad Israel sebenarnya berkompetisi dahsyat didalam tirai gelap dengan CIA, walau dimata
internasional mereka sangat mesra. Kalau anda tidak percaya banyak situs yang menceritakan
persaingan dua saudara ini. Infonya Brosing sendiri saja di Google atau Yahoo.

Persaingan lainnya yang dekat kita. Johor Bahru Malaysia dengan Singapura dalam merebut investor
baru. Bahkan kabarnya Pemerintah Malaysia akan membuat Johor Bahru tidak hanya menerima ‘luberan
turis Singapura’ tetapi lebih dari itu, infrastruktur di kota yang masih baru tersebut akan di
percanggih sebagai kota modern masa depan, sehingga turis yang juga sebagai investor bidang
keuangan ini lebih tertarik dengan Johor Bahru.

Tanpa adanya kompetitor ini perjalanan bangsa kita untuk maju masih sangat lambat, bahkan mungkin
kita mundur kebelakang? Banyak yang dulu telah kita raih tetapi telah kita lepaskan.
Hal yang paling utama saja bagi perut kita adalah masalah beras, sebagai kebutuhan pokok kita
banyak sekarang sawah yang ditinggal petaninya, atau ada petani yang ditinggal sawahnya? Maksudnya
sawahnya telah dijual kepada orang lain gitu. Sekarang ini kita mengimpor beras dari Thailand dan
Vietnam. Negara tetangga kita ini dulu banyak belajar dari kita, apalagi Vietnama. Sekarang?

Masalah sumber daya manusia kita ini. Dulu perguruan tinggi ditanggung sepenuhnya oleh dana anggaran
pemerintah. Sekarang ini perguruan tinggi negeri harus mendapatkan dana sendiri untuk menyelenggarakan
pendidikan. Loh… Dana yang besar di Departemen Pendidikan itu untuk apa? Yang tuk para pejabatnya donk!
Untuk gajinya, untuk tunjangannya, untuk honornya, untuk perjalanan dinasnya untuk … ntuk … ntuk …
Jangan nggak ngaku lu… yang di Departemen Pendidikan!

Kembali ke Perguruan Tinggi tadi, mereka yang lulus SMA sekarang ini harus siap dengan investasi dana
yang cukup besar jika ingin kuliah… Sementara diseberang sana negera tetangga kita baik itu
Malaysia, Singapura, Thailand, apalagi Brunai memberikan pendidikan gratis sampai mereka S1. Plus dengan
uang buku dan lain-lain.

Rasanya sulit untuk meneruskan tulisan ini karena air mata saya sebagai rakyat Indonesia terus bercucuran …
Kapan kiranya penderitaan rakyat ini berakhir?

Bangkitkan Indonesia Melalui Perbaikan Kualitas SDM Terlebih Dulu!

Oleh Heri Hidayat Makmun, S.E., M.M

Generasi muda merupakan aset bangsa yang tak ternilai. Tidak ada bangsa yang sudah maju pada masa ini, tanpa usaha pembangunan pendidikan untuk generasi penerus bangsanya. Komersialisasi pendidikan di Indonesia dengan membentuk lembagna/institusi pendidikan menjadi suatu badan usaha menyebabkan termarginalisasinya anak bangsa untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Tentunya ini merupakan ironi dari suatu bangsa yang memiliki pembukaan Undang Undang yang berupaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini berarti kecerdasan bangsa merupakan kewajiban Negara . Sehingga seharusnya harus ada upaya-upaya Pemerintah untuk menyediakan pendidiakan gratis sampai ke perguruan tinggi.

Pemerintah harus kembali menyediakan aggaran yang cukup. INI HARUS. Bukan untuk sekedar peningkatan gaji guru PNS yang saat sekarang ini sudah makmur., tetapi juga memberikan kesejahteraan pada semua guru. YANG PALING MEMPPRIHATINKAN ADALAH GURU/DOSEN HONOR MURNI.

Mengembalikan Perguruan Tinggi kembagi pada khitahnya untuk mendidik bukan untuk mendapatkan penghasilan baru bagi pemerintah dengan membentuknya menjadi Badan Usaha Pendidikan.

Proporsi jumlah angkatan didik untuk memasuki jenjang ke perguruan tinggi sangat sedikit yang terserap ke perguruan tinggi. Hal ini selain kurangnya lembaga pendidikan tinggi di daerah-daerah, biaya masuk keperguruan tinggi yang tinggi, tuntutan ekonomi keluarga dan sebagainya yang menyebabkan anak bangsa tidak dapat mengeyam pendidikan tinggi.

Menyesuaikan kurikulum pendidikan secara terus menerus untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menjadikan bidang ilmu tertentu seperti computer menjadi bidang ilmu wajib, seperti matematika atau bahasa Indonesia dan mata pelajaran wajib lainnya.

Menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua dalam instisusi pendidikan. Dengan menetapkan hari wajib berbahasa Inggris. Bahasa Inggris yang diajarkan adalah bahasa Inggris yang berlaku secara Internasional yaitu English United States. Pengajaran bahasa English United Kingdom yang sekarang ini berjalan sangat merugiikan anak didik, karena dalam pergaulan internasional lebih banyak digunakan English United States.

Selain pendidikan yang diselenggarakan oleh Depertemen Pendidikan pemerintah juga harus meningkatkan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pendidikan Agama. Semakin terjadinya kemerosotan akhlak bangsa karena pendidikan agama hanya dinomor duakan.

Untuk mengejar ketertinggalan kemampuan sumber daya manusia Indonesia dalam memiliki keterampilan perlu dijadikan pendidikan kursus dan keterampilan yang sekarang ini hanya ditanggani oleh masyarakat. Dijadikan sebagai kewajiban pemerintah untuk pengadakannya.