McCain = Bush?

Oleh Sumantiri B. Sugeo

“Oderint dum metuant – Tak apa mereka benci asalkan mereka takut”
Praktek politik militer Kekaisan Romawi dalam mempertahankan wilayah ke-empire-annya.

Setiap sejarah bangsa melahirkan slogan-slogan yang menjadi idelogi. Cara berfikir konservatif yang umumnya muncul dari kalangan republikan AS membentuk semacam indogkrinasi yang sulit untuk berubah. Fenomena ini dapat terlihat dari para tokoh republikan. Salah satunya adalah McCain yang didaulat menjadi Calon Presiden AS dari Partai Republik berdasarkan hasil konvensi nasional partai tersebut.

Memori masa lalu ketika AS memenangkan perang dunia II (World War II) menjadi kenangan manis yang menyandu, ketika AS dianggap sebagai hero dari negara-negara sekutu sekaligus sebagai kekuatan adidaya satu-satunya di dunia. Praktis seluruh kawasan dunia berada di bawah hegemoni barat yang dikomandoi oleh AS. Paradigma inilah yang membentuk kalimat seperti:

“In Praise of American Empire”
Dinesh D’Soize, Hooper Institution

Empire yang sudah dibangun hasil dari invansi yang sudah-sudah.

Pada contoh kasus-kasus seperti Grenada, El Salvador dan Nikaragua. Bisa dilihat walaupun tidak ada keuntungan ekonomi yang dijanjikan, tetapi kemandirian negara-negara dunia ketiga yang tidak terikat pada Washington akan mendapatkan stigma “membahayakan”. Negara seperti ini tidak akan dijadikan sekutu. Ancaman embargo ekonomi sampai pada invansi militer harus siap ditanggungnya. Faktor ekonomi menjadi nomor dua, strategi wilayah dianggap menjadi penting.

Paska runtuhnya Uni Soviet yang ditandai dengan dirubuhkannya tembok Berlin, ternyata kebijakan AS tidak berubah. Ditahun 1993 mereka menyerang Somalia dengan maksud ikut campur untuk menata ulang peta politik negara tersebut.

AS juga Ikut campur juga untuk menumpas gerakan perlawanan di Peru, Meksiko, Kolombia, dan Ekuador. Hal ini dilakukan di Amerika Latin di tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an sampai tahun 1990-an.

Setelah AS menghujani Irak dengan bom tahun 1991. Penyerbuan ini dilakukan sebelum invansi AS atas Irak yang sekarang. AS mendirikan pangkalan militer di Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab. Kemudian operasi badai gurun dilancarkan kembali sampai saat ini.

Pada ikut dalam konflik Yugoslavia di tahun 1999 yang akhirnya negara ini pecah. AS mendirikan pangkalan senjata di Kosovo, Georgia, Albania, Bulgaria, Makedonia, Hungaria, Bosnia, dan Kroasia. Kemudain setelah menginvansi Afghanistan tahun 2001 sampai saat ini. AS mendirikan pangkalan militer di Afghanistan, Pakistan, Kazakhstan, Georgia, Yaman dan Djibouti.

Di Jepang, Korea Selatan, Taiwan AS juga mendirikan pangkalan militernya. Bahkan Yukosuka pangkalan marinir AS di Jepang dijadikan sebagai pusat kekuatan nuklir di Asia Timur. Berbagai kapal induk berkekuatan nuklir hilir mudik disini, contoh seperti Kapal Induk USS George Washington. Pemimpin Partai Demokrat Sosial Mizuho Fukushima dalam satu pidato pada unjukrasa itu mengatakan bahwa; “Satu kapal induk berbahan nuklir adalah lebih berbahaya ketimbang generasi kekuatan nuklir”. Dalam kaitannya dengan perang globar AS yang selalu memaksa Jepang ikut, ia juga berkomentar, “Jepang , yang memiliki konstitusi damai, harus tidak terlibat dalam perang tak pantas AS.”

As juga mempertahankan sebuah perebutan wilayah yang dilakukan secara tidak sah oleh Israel terhadap bangsa Palestina yang lemah secara militer dan sumber daya. Mereka harus menghadapi mesin perang canggih buatan AS.

Sulit diterima akal pikiran sehat bagi bangsa yang tidak mengalami kemenangan World War II. Efek dari World War II masih terus berlanjut. Hal tersebut terlihat kali ini. Ketika seorang calon presiden dari Partai Republik secara berani melakukan tawaran kepada warga AS untuk menjadikan AS sebagai fasisme baru. Tawaran ini diberikan oleh McCain justru disaat kesadaran dunia kepada arti sebuah cinta dan perdamaian semakin meningkat. Kalau boleh penulis memberikan sebuah kalimat yang cukup tepat untuk McCain : “Hidup di babak sejarah yang tidak tepat.”

Sejah Hitler. Musolini dan Kaisar Hirohito yang pernah membangun ke-empire-an di atas puing-puing negeri yang terjajah sekedar untuk memasang sebuah bendera kebanggaan dengan membunuh ribuan bahkan jutaan nyawa manusia. Ini jelas sulit dipahami oleh bangsa lain. Apakah McCain akan menjadi bagian dari mereka?

Secara berani McCain memberikan sebuah jawaban yang sangat jelas atas pertanyaan ini kepada peserta konvensi Partai Republik. McCain berkata : “American state will continue to building national empire.” Ini artinya pembunuhan masal akan diteruskan, menghabiskan anggaran militer untuk invansi juga akan diteruskan, mengirimkan anak-anak AS yang sehat ke medan perang, kemudian dipaketkan pulang dalam peti jenazah juga akan terus berlanjut.

Hal ini dikatakan McCain dengan tersenyum dalam konvensi tersebut. Sebuah senyum yang teramat mahal untuk dibayar oleh umat manusia di bumi. Untuk melanjutkan Bush administration di semua penjuru dunia. Suatu kebijakan yang sangat ditentang bukan saja oleh negara-negara korban seperti Afghanistan, Irak, Vietnam, Korea Utara, Somalia, Libia, Cile, Cuba, Venejuela, dan lainnya, tetapi juga seluruh warga dunia yang mulai sadar akan pentingnya sebuah perdamaian bagi masa depan bumi ini, bahkan juga sebagian besar warga AS sendiri yang cinta damai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: