Pertemuan Kelompok Ahli Mengenai Arah Kebijakan Indonesia Dalam Menyikapi Isu Nuklir Iran di Solo 28 April 2006
Posisi Iran semakin tidak menguntungkan karena Amerika Serikat sejak beberapa tahun yang lalu memandang Iran bersama-sama dengan Irak dan Korea Utara merupakan negara yang membahayakan keamanan dunia sehingga dicap sebagai “devil of axis”. Selain itu, kemenangan Ahmadinejad dari partai konservatif sebagai presiden Iran yang sangat anti Israel semakin memperkuat kekhawatiran AS bahwa Iran merupakan ancaman bagi eksistensi Israel dan stabilitas di kawasan.
Selanjutnya, mengacu pada tindakan unilateral Amerika Serikat terhadap Irak dengan alasan yang sama (kepemilikan senjata pemusnah massal) maka dikhawatirkan upaya pengembangan teknologi pengayaan nuklir Iran akan berkembang ke arah situasi yang dapat menimbulkan krisis di kawasan dan juga di dunia. Pernyatan-pernyataan Presiden AS yang akan menggunakan kekuatan militer untuk menekan Iran agar menghentikan kegiatan program nuklirnya nampaknya akan mengarah ke tindakan unilateral seperti yang dialami Irak.
Menanggapi permasalahan tersebut, sejak awal Pemerintah Indonesia mendukung hak Iran untuk mengembangkan nuklir dengan tujuan damai sebagaimana ditegaskan dalam NPT. Oleh karena itu, Indonesia memandang perlu diteruskannya proses negosiasi, dan memastikan bahwa proses tersebut produktif dalam mencari solusi masalah nuklir Iran, tanpa menimbulkan ketegangan baru di kawasan. Indonesia juga terus berupaya meyakinkan masyarakat internasional bahwa kegiatan pengembangan nuklir yang dilakukan pemerintah Iran, benar-benar untuk tujuan damai.
Berbagai upaya yang dilakukan Indonesia merupakan partisipasi aktif Indonesia dalam rangka menciptakan perdamaian dunia, seperti antara lain tanggal 30 Januari 2006 Presiden RI telah memanggil Dubes AS, Uni Eropa, Rusia dan China di Jakarta untuk menyampaikan sikap dan posisi Indonesia yaitu agar semua pihak yang terkait sebaiknya menyelesaikan permasalahan tersebut melalui upaya-upaya damai dengan dialog dan negoisasi. Indonesia juga melakukan pendekatan secara langsung terhadap Iran untuk dapat bekerjasama dengan IAEA dan patuh terhadap NPT, untuk menghilangkan kecurigaan masyarakat internasional atas nuklir Iran.
Namun demikian Indonesia tetap mempertegas posisinya bahwa meskipun Indonesia mendukung hak sah negara non-nuklir, termasuk Iran untuk mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai, tetapi akan menentang dan menolak segala bentuk pengalihan teknologi nuklir untuk tujuan damai ke tujuan-tujuan militer.
(Sumber www.deplu.go.id)
BPK Mendapatkan Temuan Penyimpangan Dana Perimbangan 1,54 T
Demikian hasil audit BPK terhadap penyaluran dana perimbangan tahun anggaran 2006 dan semester I 2007 senilai Rp 267,14 triliun. Akibat temuan ini BPK melakukan audit pada September Tahun 2007 untuk menelusuri aliran Dana Perimbangan tersebut.
</a

